SERAM BAGIAN TIMUR — Tujuh kecamatan di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, mengalami kekeringan signifikan sejak memasuki musim kemarau pada Mei 2026. BNPB mencatat sedikitnya 24.089 jiwa terdampak langsung akibat menurunnya debit air sumur dan sungai.
Kecamatan Terdampak dan Skala Krisis Air
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyebutkan wilayah terdampak meliputi Kecamatan Bula, Bula Barat, Seram Timur, Pulau Gorom, Gorom Timur, Kesui Watubela, dan Teor.
"Debit air di wilayah tersebut mengalami penurunan yang cukup drastis. Sumur dan sungai mengering sehingga mengakibatkan warga mengalami kekurangan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujar Abdul dalam siaran resmi, Jumat (3/7/2026).
Langkah Penanganan: Distribusi Air Bersih dan Kaji Cepat
BPBD Kabupaten Seram Bagian Timur telah bergerak ke lokasi terdampak untuk melakukan identifikasi dan kaji cepat. Tim berkoordinasi dengan aparat pemerintah setempat serta mendistribusikan tangki air dan air bersih kepada warga.
Sebanyak 7.107 KK atau 24.089 jiwa tercatat mengalami dampak langsung dari kekeringan ini. Pemerintah daerah masih menghitung kebutuhan pasokan air bersih jangka panjang hingga musim kemarau berakhir.
Gelombang Pasang Juga Landa Wilayah Pesisir
Tak hanya kekeringan, gelombang pasang juga terjadi di beberapa kecamatan pesisir Seram Bagian Timur pada Rabu (1/7/2026) pukul 13.00 WIT. Angin muson timur disebut menjadi pemicu meningkatnya tinggi gelombang laut.
"Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Siritaun Wida Timur, Pulau Gorom, Kesui Watubela, Teor, dan Ukar Sengan," jelas Abdul.
BPBD setempat telah melakukan identifikasi dan penanganan darurat untuk merespons dampak gelombang pasang tersebut.