AMBON — Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Diskominfosandi) Pemkot Ambon menargetkan siswa MTs Negeri Ambon memahami teknologi digital secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab. Sosialisasi ini menekankan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis menggunakan perangkat, melainkan kesadaran mengevaluasi setiap konten sebelum dipercaya atau diteruskan.
Tiga Ancaman Utama di Era Digital
Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena, melalui sambutan tertulis yang dibacakan Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Rustam Simanjuntak, mengidentifikasi tiga ancaman nyata: penggunaan kecerdasan buatan (AI), perundungan siber, dan penyebaran hoaks. Ketiga tantangan ini telah menembus kehidupan pelajar, kelompok paling rentan terhadap manipulasi konten.
"Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami, menyaring, dan menggunakan informasi secara bijak dan bertanggung jawab," kata Wali Kota. Pernyataan ini menjadi fondasi program Pemkot untuk membentengi pelajar dari konten berbahaya.
Pelajar Sebagai Validator Informasi
Program ini mengharapkan pelajar tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi validator informasi di lingkungan mereka sendiri. Dengan kemampuan verifikasi dasar, mereka dapat menolak hoaks sebelum konten palsu menyebar di media sosial atau grup percakapan digital.
Digitalisasi telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat — dari pendidikan hingga interaksi sosial. Tanpa literasi digital yang memadai, pelajar rentan menjadi korban atau pelaku penyebaran konten berbahaya.