AMBON — Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon mulai memasifkan edukasi literasi digital ke sekolah-sekolah untuk membentengi generasi muda dari dampak negatif internet. Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Ambon, Rustam Simanjuntak, menekankan bahwa teknologi harus digunakan secara kritis dan bertanggung jawab.
Langkah ini diambil mengingat perkembangan digitalisasi telah menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan pelajar. Tanpa pemahaman yang kuat, siswa rentan terjebak dalam ekosistem informasi yang tidak sehat, termasuk risiko penyalahgunaan data pribadi.
“Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami, menyaring, dan menggunakan informasi secara bijak dan bertanggung jawab,” kata Rustam saat membacakan sambutan tertulis Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena di Ambon, Kamis.
Empat Pilar Literasi Digital untuk Generasi Muda
Dalam sosialisasi tersebut, Pemkot Ambon menekankan penguatan empat pilar utama literasi digital. Pilar tersebut mencakup kecakapan digital, etika digital, keamanan digital, serta budaya digital yang harus diadopsi oleh setiap siswa dalam aktivitas daring mereka.
Implementasi pilar-pilar ini memerlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat luas. Hal ini bertujuan agar penggunaan telepon pintar di lingkungan pendidikan memberikan dampak positif bagi pengembangan diri pelajar.
Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Diskominfosandi) Kota Ambon, Ronald Lekransy, menyatakan bahwa penggunaan perangkat digital harus dilakukan secara bertanggung jawab. Fokus utamanya adalah menciptakan ruang digital yang bersih dan produktif di ibu kota Provinsi Maluku tersebut.
“Kita berharap bahwa literasi digital ini bisa membantu untuk memberikan sebuah proses membangun ekosistem di kota ini yang sehat terhadap pemanfaatan digital,” ujar Ronald.
Antisipasi Dampak Kecerdasan Buatan dan Hoaks
Selain penggunaan media sosial, para siswa juga dibekali pemahaman mengenai tantangan teknologi terbaru seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pelajar diarahkan untuk memanfaatkan AI sebagai alat bantu belajar yang positif, bukan untuk tindakan plagiarisme atau manipulasi informasi.
Isu perundungan siber (cyber bullying) dan maraknya hoaks juga menjadi sorotan utama dalam materi sosialisasi. Siswa diminta untuk selalu melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi apa pun ke jejaring sosial mereka guna memutus rantai penyebaran berita bohong.
Pelaksana Harian Kepala MTs Negeri Ambon, Muhammad Rizal, mengapresiasi langkah jemput bola yang dilakukan Diskominfosandi Ambon. Menurutnya, edukasi ini menjadi bekal penting bagi siswa agar lebih kreatif dan aman saat berselancar di dunia maya.
Kegiatan ini ditutup dengan sesi pemanfaatan internet secara positif untuk mendukung pengembangan bakat. Pemkot Ambon menargetkan program serupa dapat menjangkau lebih banyak sekolah untuk mempercepat terciptanya masyarakat digital yang beretika.