DOBO — Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, menegaskan bahwa kerusakan lingkungan sudah berdampak langsung pada sektor ekonomi daerah. Ia mengungkapkan hasil riset pengusaha mutiara asal Jepang yang menyebut kualitas mutiara putih khas Aru mulai menurun karena keseimbangan alam terganggu.
"Orang Jepang mengatakan mutiara putih terbaik seperti di Aru hanya ada di sini dan di Lombok. Namun sekarang mulai sulit berkembang karena keseimbangan alam terganggu," kata Kaidel di Taman Kota Dobo.
Penyebab Kerusakan: Terumbu Karang Diambil untuk Bahan Bangunan
Menurut Kaidel, kebiasaan masyarakat menggunakan terumbu karang dan pasir laut sebagai material bangunan menjadi salah satu penyebab utama kerusakan ekosistem pesisir. Praktik ini sudah dikampanyekan sejak 2010, tetapi belum sepenuhnya berhenti.
"Kalau semua bangunan terus menggunakan terumbu karang dan kayu, maka laut kita akan rusak," ujarnya.
Pemerintah daerah mendorong penggunaan bata ringan dan baja ringan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Kaidel menyebut konsep membangun yang baru harus murah, cepat, dan kuat.
Rencana Percontohan Rumah Ramah Lingkungan dan Musyawarah Adat
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru berencana membuat percontohan rumah murah dengan material alternatif agar bisa ditiru masyarakat luas. Selain itu, pemerintah akan menggelar musyawarah adat besar yang melibatkan 117 desa, kepala desa, tuan tanah, dan tokoh masyarakat.
Musyawarah ini bertujuan mempercepat sosialisasi aturan adat terkait perlindungan lingkungan. Kaidel berharap aturan adat bisa menjadi benteng terakhir menjaga kelestarian alam Aru.
Aksi Nyata Pemuda: Tanam Ratusan Pohon Tanjung di Taman Kota
Aksi hijau berkelanjutan digagas oleh puluhan kader Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Cabang Siloam. Mereka menanam ratusan pohon tanjung di Taman Kota Dobo sebagai langkah awal program penghijauan.
Ketua AMGPM Cabang Siloam, Piston Karatem, mengatakan kegiatan ini lahir dari kepedulian pemuda terhadap kondisi lingkungan. "Kami sadar ini merupakan tanggung jawab bersama. Kami mungkin tidak memiliki banyak dana, tetapi kami punya semangat untuk melakukan aksi nyata menjaga lingkungan," katanya.
AMGPM berencana melanjutkan program dengan penanaman mangrove dalam skala lebih besar pada tahap berikutnya. Mereka bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk penyediaan bibit.
Bupati: Jangan Sampai Kegiatan Hijau Hanya Seremonial
Kaidel mengingatkan agar kegiatan penghijauan tidak berhenti pada seremoni. "Sering kegiatan seperti ini hanya menjadi seremonial dan setelah itu tidak ada yang memelihara pohon yang ditanam. Kalau berkelanjutan, maka kita harus terus menjaga dan mengampanyekan kepedulian lingkungan," tegasnya.
Ia menambahkan, masyarakat Aru sejak dulu hidup bergantung pada alam. Kelestarian lingkungan, menurutnya, adalah jaminan keberlangsungan hidup generasi mendatang.