MALUKU TENGAH — Sekitar satu jam perjalanan mobil dari pusat kota Ambon, atau 42 kilometer melewati jalan kecil berliku yang diapit rumah-rumah pedesaan dan pedagang ikan, Benteng Amsterdam berdiri kokoh di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu. Siang itu, halaman benteng dipadati rombongan dosen yang tengah menggelar acara wisata sejarah. Tenda biru lebar dipasang untuk melindungi tamu dari sengatan matahari Maluku.
Suasana riuh rendah terdengar saat pertunjukan bambu gila dimulai. Tawa dan jerit penonton pecah ketika rekan-rekan mereka mencoba sendiri permainan tradisional itu, tubuh mereka bergerak ke sana kemari tanpa bisa dikendalikan. Keramaian seperti itu, menurut penjaga cagar budaya, kini sudah menjadi pemandangan biasa.
Benteng Amsterdam Jadi Lokasi Favorit Berbagai Acara
"Buat masyarakat dan siapa pun dia yang mau datang ke sini bikin acara di sini, itu kami siap," kata Damir Lating, polisi khusus cagar budaya, kepada ANTARA pada April 2026. Menurut Damir, benteng ini kerap menjadi lokasi berbagai acara institusi, mulai dari perpisahan pejabat hingga sosialisasi.
Fungsi benteng yang terus berkembang ini menunjukkan bahwa cagar budaya tak harus menjadi museum yang sunyi. Justru dengan dihidupkan oleh kegiatan masyarakat, nilai sejarahnya tetap terawat sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi warga sekitar.
Jejak Kejayaan Rempah yang Masih Berdiri Tegak
Dibandingkan perjalanan di ibu kota Jakarta yang terasa panjang akibat macet, jarak 42 kilometer dari Ambon ke Benteng Amsterdam justru menawarkan pengalaman tersendiri. Suasana kota berangsur berubah menjadi jalan kecil berliku, rumah-rumah pedesaan berjejer rapi, dan beberapa masjid mencolok di pinggir jalan. Warga terlihat berjualan ikan, menawarkan hasil melaut hari itu.
Benteng Amsterdam sendiri merupakan saksi bisu kejayaan rempah di Maluku. Dulu, benteng ini menjadi pusat perdagangan pala dan cengkih yang memperebutkan pengaruh antara bangsa Eropa dan kesultanan lokal. Kini, kokohnya dinding benteng menjadi daya tarik utama bagi pencinta sejarah yang ingin memahami keanekaragaman hayati dan budaya Maluku.
Museum Sejarah Masih Jadi Impian
Meski sudah ramai dikunjungi, belum ada museum khusus di dalam benteng yang menyajikan narasi sejarah secara utuh. Saat museum itu sudah terwujud, perjalanan pencinta sejarah akan terasa lebih menyenangkan. Pengunjung tak cuma bisa mengagumi kokohnya benteng, tetapi juga memahami keanekaragaman hayati Maluku yang memikat.
Kehadiran museum kelak diharapkan bisa melengkapi pengalaman wisata sejarah yang sudah ada. Untuk saat ini, Benteng Amsterdam tetap menjadi destinasi yang layak dikunjungi—baik untuk sekadar menikmati sore sambil belajar sejarah, maupun untuk menggelar acara bersama komunitas.