MALUKU — Direktur Utama Bio Farma Group Shadiq Akasya mengungkapkan bahwa tahun 2026 menjadi periode krusial untuk membenahi fundamental perusahaan. Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Selasa (9/6/2026), ia menyebut restrukturisasi keuangan telah dimulai sejak 2025 dengan menata ulang kewajiban terhadap 13 kreditur perbankan di Indonesia.
“2026 adalah tahun penguatan fundamental. Bio Farma telah melakukan restrukturisasi keuangan, reorientasi bisnis, penataan tata kelola, dan memperkuat core business perusahaan,” ujar Shadiq.
Program restrukturisasi ini tidak hanya berlaku di Bio Farma, tetapi juga menjangkau entitas di bawah grup, termasuk PT Kimia Farma Tbk, Kimia Farma Apotek, dan PT Phapros Tbk. Perusahaan juga mengajukan dukungan modal kerja kepada pemegang saham melalui Danantara Asset Management (DAM) untuk mempercepat transformasi.
Ekspansi Pasar dan Lima Produk Baru
Memasuki periode 2027-2028, Bio Farma akan mengalihkan fokus pada ekspansi bisnis. Perusahaan tengah mengembangkan lima produk baru yang dirancang khusus untuk mendukung program imunisasi nasional.
“R&D di sebuah perusahaan farmasi sangat penting, baik itu di Biologic maupun Farma. Ini untuk menunjang dan mengikuti perkembangan kebutuhan kesehatan nasional atau secara global,” jelas Shadiq.
Di sisi ekspor, Bio Farma tidak hanya mengandalkan kerja sama dengan UNICEF. Perusahaan juga memperkuat skema business-to-business (B2B) dan business-to-government (B2G) dengan negara-negara prioritas di Afrika, Asia, dan Timur Tengah. Anak usaha seperti Kimia Farma dan Indofarma diarahkan untuk mengembangkan produk farmasi dengan margin tinggi dan permintaan besar, tanpa mengabaikan program pemerintah.
Target 2029-2030: Menuju Perusahaan Berkelanjutan
Pada fase 2029-2030, Bio Farma menargetkan transformasi menuju perusahaan yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan. Fokusnya meliputi pengembangan model bisnis yang lebih scalable, perbaikan indikator keuangan, serta penguatan keunggulan operasional.
“Secara garis besar dari sisi roadmap jangka panjang ini, kita ingin Bio Farma menjadi leader di ekosistem kesehatan nasional pada bidang manufaktur, distribusi, retail farmasi, dan layanan kesehatan,” tegas Shadiq.
Dengan peta jalan ini, Bio Farma tidak hanya berupaya bangkit dari tekanan keuangan, tetapi juga menempatkan diri sebagai pemain utama yang mengintegrasikan seluruh rantai nilai industri farmasi di Indonesia. Jika berhasil, masyarakat akan merasakan dampaknya dalam bentuk akses obat dan vaksin yang lebih merata serta layanan kesehatan yang lebih terpadu.