MALUKU — Dua kelompok besar di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta menggelar kirab dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Suro secara terpisah, Kamis malam (18/7). Kubu Mangkubumi dan kubu Purbaya diketahui memulai iring-iringan dari titik yang berbeda namun tetap berada di kawasan kompleks keraton dan sekitarnya.
Rute dan Titik Kumpul yang Berbeda
Iring-iringan dari kubu Mangkubumi dilaporkan berkumpul di area utara keraton, sementara kubu Purbaya memusatkan peserta di sisi selatan. Kedua kelompok menggunakan atribut kebesaran keraton masing-masing, termasuk pusaka dan abdi dalem setia mereka.
Meski berlangsung di momen yang sama, kedua kubu menyatakan telah berkomitmen untuk menjaga ketertiban. Tidak ada laporan insiden berarti selama prosesi berlangsung hingga Jumat dini hari.
Harapan Damai dari Kedua Pimpinan Kubu
Pimpinan kubu Mangkubumi, KGPH Mangkubumi, menyampaikan harapan agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar. "Kami berharap masyarakat dapat menyaksikan dengan tenang, tidak ada niat untuk menimbulkan kegaduhan," ujarnya sebelum keberangkatan iring-iringan.
Senada dengan itu, perwakilan kubu Purbaya, KGPH Purbaya, menekankan pentingnya menjaga tradisi tanpa gesekan. "Ini adalah warisan leluhur yang harus kita rawat bersama. Kami sudah berkoordinasi internal agar semua berjalan damai," katanya.
Polarisasi Internal yang Kian Terlihat
Fenomena dua kirab di malam yang sama ini menjadi indikasi paling kasatmata dari perpecahan internal di Keraton Surakarta yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Sejak wafatnya Paku Buwono XII pada 2004, suksesi kepemimpinan keraton memunculkan dua garis legitimasi yang hingga kini belum terselesaikan.
Kubu Mangkubumi mengacu pada penetapan pewaris takhta oleh almarhum raja, sementara kubu Purbaya merujuk pada keputusan musyawarah keluarga besar keraton. Keduanya sama-sama mengklaim sebagai penerus sah tradisi Kasunanan.
Aparat Berjaga, Lalu Lintas Dialihkan
Kepolisian Resor Kota Surakarta menerjunkan personel untuk mengamankan kedua rute kirab. Sejumlah ruas jalan di sekitar Baluwarti dan Pasar Gede ditutup sementara untuk memberi ruang bagi iring-iringan pejalan kaki.
Ribuan warga dan wisatawan tetap memadati pinggir jalan untuk menyaksikan prosesi. Bagi sebagian masyarakat, perbedaan kubu tidak mengurangi kekhidmatan tradisi tahunan yang sudah berusia berabad-abad ini.