Pencarian

Pengembangan Banda Jadi Destinasi Wisata Nasional Disambut Baik, Tenaga Ahli Peringatkan Risiko Kerusakan Permanen

Selasa, 30 Juni 2026 • 15:46:31 WIB
Pengembangan Banda Jadi Destinasi Wisata Nasional Disambut Baik, Tenaga Ahli Peringatkan Risiko Kerusakan Permanen
Tenaga Ahli pelestarian budaya mendukung pengembangan Banda sebagai destinasi wisata nasional dengan catatan pelestarian cagar budaya tetap dijaga.

AMBON — Izack Apono, Tenaga Ahli Pelestarian Cagar Budaya Nasional, menyambut baik rencana Pemkab Maluku Tengah yang ingin menjadikan Kepulauan Banda sebagai destinasi wisata nasional. Ia menilai langkah itu bisa mendongkrak kesejahteraan masyarakat setempat. Namun, Apono menekankan bahwa pengembangan harus melalui kajian matang dan melibatkan banyak pihak agar tidak merusak nilai sejarah yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.

Mengapa Pengembangan Banda Harus Hati-Hati?

Apono, yang telah berkecimpung di bidang pelestarian kebudayaan sejak 1981, mengingatkan bahwa Banda bukan sekadar destinasi wisata biasa. Ia pernah terlibat dalam pemetaan kawasan cagar budaya di Banda sejak 1985 bersama Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kemendikbud.

“Pada prinsipnya saya sangat mengapresiasi rencana itu demi kesejahteraan masyarakat Banda. Tetapi jangan gegabah. Pengembangan harus melibatkan semua pihak agar tidak merusak kawasan cagar budaya yang menjadi kekayaan sejarah bangsa,” kata Apono kepada wartawan.

80 Persen Kota Neira Adalah Zona Cagar Budaya

Menurut Apono, sekitar 80 persen kawasan Kota Neira masuk dalam zona cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Di dalamnya terdapat situs-situs penting seperti Benteng Belgica, Benteng Nassau, Kompleks Istana Mini, serta rumah pengasingan Bung Hatta dan dr. Cipto Mangunkusumo. Ia menyebut pembangunan fisik di zona tersebut memiliki aturan ketat karena berada dalam kawasan perlindungan.

“Yang dicari wisatawan adalah aura Banda yang masih asli, bukan perubahan menjadi kawasan modern. Banda memiliki nilai sejarah yang tidak dimiliki daerah lain di Maluku,” ujarnya.

Langkah yang Harus Dilakukan Sebelum Pembangunan

Apono mendesak Dinas PUPR Kabupaten Maluku Tengah untuk tidak mengambil keputusan sendiri dalam menyusun rencana pengembangan. Ia mengusulkan agar pemerintah melibatkan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Maluku, Dinas Pariwisata, BRIN bidang Arkeologi, organisasi budaya di Banda, akademisi, hingga DPRD setempat.

“Kalau hanya mengatakan sudah mendapat dukungan masyarakat, itu belum cukup. Masyarakat belum tentu memahami dampak jangka panjang terhadap warisan budaya yang akan diwariskan kepada anak cucu,” tegasnya.

Potensi Arkeologi yang Belum Tergali

Selain situs yang sudah dikenal, Apono menyebut masih banyak potensi arkeologi yang belum tergali di Kepulauan Banda, baik di daratan maupun bawah laut. Salah satunya adalah dugaan terowongan bawah tanah yang menghubungkan Benteng Belgica dengan Benteng Nassau. Ia menilai temuan itu berpotensi menjadi daya tarik wisata sejarah jika diteliti secara ilmiah.

Di akhir pernyataannya, Apono berharap pemerintah lebih mengutamakan koordinasi lintas sektor sebelum merealisasikan rencana tersebut. “Cagar budaya hanya sekali bisa disentuh. Jika penanganannya salah, kerusakannya bersifat permanen. Kalau ekosistem Banda berubah menjadi kawasan modern, maka Maluku akan kehilangan satu-satunya kawasan budaya terbaik yang masih utuh,” pungkasnya.

Bagikan
Sumber: tribun-maluku.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks