JAKARTA — Pelemahan rupiah pagi ini melanjutkan tren negatif hari sebelumnya, di mana rupiah ditutup di level Rp17.907 per dolar AS. Rentang pergerakan mata uang Garuda diperkirakan berada di kisaran Rp17.825 hingga Rp17.950 per dolar AS sepanjang hari ini.
Josua Pardede menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor domestik. “Investor asing mencatatkan net sell sebesar 58,20 juta dolar AS, yang mendorong IHSG turun 3,05 persen ke level 5.643,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
Inflasi Juni Diprediksi Naik, Daya Beli Terancam
Di dalam negeri, pelaku pasar tengah menunggu rilis data inflasi Juni 2026 dan neraca perdagangan Mei 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Josua memperkirakan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat menjadi 0,50 persen secara bulanan atau 3,41 persen secara tahunan pada Juni 2026.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi Mei 2026 yang tercatat 0,28 persen month on month (mom) atau 3,08 persen year on year (yoy). “Kenaikan ini didorong oleh semakin kuatnya pass-through kenaikan biaya input ke harga konsumen, termasuk kenaikan harga energi non-subsidi dan biaya transportasi,” jelas Josua.
Surplus Neraca Dagang Diproyeksikan Melebar
Sementara itu, surplus neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan melebar menjadi 1,13 miliar dolar AS pada Mei 2026, naik signifikan dari surplus 0,09 miliar dolar AS pada April 2026. Lonjakan ini didukung oleh normalisasi aktivitas impor setelah periode pasca-Lebaran.
Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa tren dalam setahun terakhir masih menunjukkan penyempitan surplus neraca perdagangan secara bertahap. Hal ini menjadi sinyal waspada bagi ketahanan eksternal ekonomi Indonesia ke depan.
Ketidakpastian Global: Damai Timur Tengah dan Suku Bunga The Fed
Dari sisi global, pasar masih dibayangi ketidakpastian hasil perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Doha, Qatar. Perundingan ini bertujuan meredakan ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dunia.
“Lalu lintas kapal tanker minyak terus pulih setelah kedua negara menghentikan aksi saling serang dalam beberapa waktu terakhir, sehingga memperkuat ekspektasi membaiknya pasokan energi global,” ungkap Josua. Kondisi ini mendorong pasar mengurangi ekspektasi terhadap lebih dari satu kali kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini.
Namun, proyeksi hawkish dari Federal Open Market Committee (FOMC) masih menjadi momok. Ketahanan pasar tenaga kerja AS dan inflasi inti yang persisten memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama. “Hal ini berpotensi terus menekan nilai tukar negara berkembang, termasuk rupiah,” pungkas Josua.