SAUMLAKI — Operasi pencarian yang berlangsung sejak Selasa (28/7) akhirnya menemukan titik terang. Koordinator Pos SAR Saumlaki, Wahyunan Samal, membenarkan bahwa jasad korban berhasil dievakuasi sekitar pukul 10.00 WIT di pesisir Pantai Desa Kabiarat dan langsung dibawa ke kediaman keluarga untuk diserahkan.
"Korban diketahui bernama Yoseph Atajalim ditemukan pada saat dilakukan operasi SAR hari ketiga," ujar Wahyunan dalam rilis yang diterima di Ambon, Kamis.
Kronologi Hilangnya Korban saat Mencari Kerang Laut
Peristiwa nahas ini berawal pada Senin (27/7) sekitar pukul 16.00 WIT. Yoseph bersama rekannya, Luis Batseran, berangkat menuju perairan desa untuk mencari kerang laut. Keduanya kemudian menyelam memanah ikan, namun memilih arah yang berbeda.
Saat senja tiba, sekitar pukul 17.00 WIT, hanya Luis yang berhasil kembali ke daratan. Yoseph tak kunjung muncul, dan dugaan awal menyebut ia tenggelam saat menyelam. Laporan tersebut kemudian disebarkan ke warga setempat untuk melakukan pencarian pertama, namun hasilnya nihil hingga operasi SAR hari kedua.
Dua Kasus Tenggelam dalam Sepekan, SAR Ingatkan Risiko Menyelam Tradisional
Yang mengejutkan, kejadian ini bukan yang pertama. Wahyunan mengungkapkan bahwa pada 26 Juli lalu, timnya juga melakukan operasi pencarian terhadap seorang nelayan asal Desa Kelusi yang ditemukan meninggal dunia setelah menyelam dan memanah ikan.
"Dua kasus yang sama ini tidak sampai seminggu, tetapi alhamdulillah berhasil dengan baik yang dilakukan secara bersama-sama dengan unsur gabungan," katanya.
Operasi SAR untuk Yoseph sendiri melibatkan berbagai unsur, termasuk Bhabinkamtibmas Desa Kabiarat yang menjadi pelapor pertama pada Selasa (28/7) sekitar pukul 10.55 WIT. Meski cuaca dan kondisi perairan menjadi tantangan, tim gabungan akhirnya berhasil menemukan korban dalam keadaan meninggal dunia.
"Kami dari Pos SAR Saumlaki beserta unsur gabungan berhasil menyelesaikan operasi pencarian terhadap salah seorang warga KKT yang tenggelam sejak beberapa hari lalu," pungkas Wahyunan.
Dua insiden dalam sepekan ini menjadi pengingat akan tingginya risiko aktivitas menyelam tradisional yang masih banyak dilakukan warga pesisir di Maluku, terutama tanpa peralatan keselamatan yang memadai.