MALUKU — Dua petinggi Honda Motor membeberkan strategi ini secara terbuka. Noriya Kaihara, Wakil Presiden Eksekutif Honda Motor, dan Eiji Fujimura, Presiden sekaligus CEO American Honda, memaparkan pendekatan tersebut dalam laporan The Drive yang dikutip awal pekan ini.
Inti perubahannya bukan sekadar menambah inspektur atau memperpanjang jalur perakitan. Honda mengakui bahwa kompleksitas kendaraan modern — mesin, komponen, dan perangkat lunak yang saling terhubung — membuat titik kegagalan jauh lebih banyak dibanding satu dekade lalu.
Mengapa Honda Belajar dari Kasus Toyota
Fujimura menyebut Honda memiliki tingkat loyalitas pelanggan yang tinggi. Keunggulan itu, katanya, tidak boleh dikorbankan hanya demi mengimbangi kecepatan pengembangan pesaing.
Pernyataan ini muncul di tengah sorotan terhadap Toyota, yang sepanjang beberapa tahun terakhir menghadapi rangkaian masalah mutu — mulai dari skandal uji sertifikasi hingga penarikan massal kendaraan. Honda tampaknya membaca sinyal itu sebagai peringatan: mengejar volume dan kecepatan tanpa kontrol mutu berlapis bisa menggerus kepercayaan yang dibangun puluhan tahun.
Pendekatan Honda kini lebih konservatif pada tahap validasi. Alih-alih meluncurkan fitur perangkat lunak secepat startup, Honda memilih memastikan setiap pembaruan lolos pengujian internal sebelum sampai ke tangan konsumen.
Tim Honda Sudah Ditempatkan di Tiongkok
Fujimura mengakui Tiongkok saat ini memimpin industri dalam beberapa bidang teknologi. Honda tidak sekadar mengamati dari jauh — mereka menempatkan tim langsung di negara tersebut untuk mempelajari teknologi dan metode manufaktur terkini.
Yang dipelajari bukan hanya soal baterai atau motor listrik. Perubahan teknologi terkait perangkat lunak terjadi sangat cepat, dan Honda perlu bersaing dalam pengembangan perangkat lunak, sistem bantuan pengemudi tingkat lanjut (ADAS), serta teknologi kendaraan generasi mendatang.
Artinya, Honda mengakui ada gap yang harus dikejar. Tapi cara mengejarnya berbeda dari merek-merek China yang terbiasa merilis pembaruan OTA agresif dan siklus model pendek.
Tekanan dari China dan India Semakin Nyata
Produsen otomotif global kini berlomba mempercepat pengembangan teknologi baru demi bersaing dengan merek dari Tiongkok dan India. Tekanan ini terasa paling kuat di segmen EV dan kendaraan terhubung, di mana siklus pengembangan model bisa dipangkas dari lima tahun menjadi dua hingga tiga tahun.
Bagi konsumen Indonesia, dinamika ini relevan. Honda masih menjadi salah satu merek dengan penetrasi besar di pasar lokal, baik lewat model bensin seperti Brio dan HR-V maupun lini hybrid e:HEV. Kalau Honda memilih jalur konservatif dalam hal mutu, artinya pembaruan fitur di model Indonesia kemungkinan tidak akan seagresif merek China — tapi risiko cacat produksi atau bug perangkat lunak bisa ditekan.
Yang Perlu Diperhatikan
- Kecepatan vs keandalan — strategi konservatif bisa membuat Honda tertinggal dalam fitur ADAS dan infotainment dibanding kompetitor China yang bergerak lebih cepat
- Belum ada detail teknis — Honda tidak menyebut angka spesifik soal standar pengujian baru, jumlah inspeksi tambahan, atau target penurunan cacat
- Dampak ke harga — pengendalian mutu lebih ketat berpotensi menaikkan biaya produksi, yang ujungnya bisa terasa di harga jual
- Relevansi untuk Indonesia — belum jelas apakah standar baru ini akan diterapkan merata di semua pabrik global, termasuk fasilitas produksi di Tanah Air
Kesimpulan
Honda memilih jalur yang tidak populer di era serba cepat: memperlambat sedikit demi memastikan tidak ada masalah mutu yang meledak di kemudian hari. Keputusan ini masuk akal mengingat loyalitas pelanggan Honda terbangun dari reputasi keandalan, bukan dari daftar fitur terpanjang.
Tapi strategi ini punya risiko. Di pasar yang semakin tidak sabar — terutama segmen EV dan kendaraan terhubung — konsumen bisa berpaling ke merek yang lebih dulu menghadirkan fitur baru, meski dengan rekam jejak mutu yang belum teruji.
Yang jelas, Honda tidak ingin mengulang kesalahan yang menimpa Toyota. Dan itu keputusan yang, setidaknya dalam jangka panjang, lebih aman daripada mengejar headline.