MALUKU — Tesla Motors Vietnam Limited Liability Company resmi berdiri di Ho Chi Minh City dengan modal awal 77,667 miliar dong atau sekitar US$3 juta (Rp53,1 miliar). Pendirian ini melengkapi jaringan dealer Tesla di Asia Tenggara yang sudah mencakup Singapura, Thailand, dan Malaysia, sementara Indonesia masih belum masuk radar ekspansi. Anak perusahaan tersebut mengantongi izin penjualan grosir dan eceran mobil, suku cadang, serta aktivitas impor dan distribusi.
Dokumen pendaftaran bisnis yang terbit 11 September mencatat David Jon Feinstein yang berdomisili di Austin, Texas, sebagai chairman Tesla Motors Vietnam. Isabel Ching Fan menjabat direktur jenderal, dibantu Nguyen Manh Hung sebagai asisten direktur jenderal. Reuters memberitakan langkah ini pada Rabu (16/9), meski Tesla belum memberikan komentar resmi.
Fokus pada Penjualan, Bukan Pabrik
Suntikan dana US$3 juta difokuskan untuk mendanai operasional penjualan dan layanan purna jual. Tidak ada alokasi untuk membangun pabrik manufaktur atau rantai pasokan lokal di Vietnam.
Strategi ini mempertegas pendekatan Tesla membuka jalur distribusi kendaraan impor dan layanan servis. Model serupa sudah diterapkan di Singapura, Thailand, dan Malaysia sebelum akhirnya masuk Vietnam.
Dominasi VinFast Jadi Tembok Pertama
Produsen EV lokal VinFast menguasai pasar domestik Vietnam secara signifikan. Sepanjang semester pertama 2026, VinFast mencatatkan pengiriman 115.916 unit kendaraan listrik.
Dominasi tersebut kian menguat pada Agustus dengan pangsa pasar nasional mencapai 42 persen melalui penjualan 20.161 unit. Angka itu menempatkan Tesla sebagai pemain baru yang harus berhadapan dengan merek yang sudah punya basis pelanggan kuat.
Regulasi Asing di Vietnam Makin Ketat
Selain persaingan dengan pemain lokal, Tesla harus beradaptasi dengan regulasi bisnis bagi perusahaan asing yang terus diperketat sepanjang tahun ini. Aturan tersebut mencakup persyaratan operasional, perizinan, hingga distribusi.
Keberlanjutan investasi Tesla di Vietnam akan terlihat dari seberapa agresif mereka mendatangkan mobil impor, membangun pusat servis, dan menyediakan jaringan pengisian daya.
Indonesia Masih Menunggu
Hingga kini Tesla belum menunjukkan tanda-tanda membuka operasi resmi di Indonesia. Padahal pemerintah Indonesia sudah lama mendorong investasi produsen EV asal Amerika Serikat tersebut, termasuk melalui insentif kendaraan listrik.
Vietnam menjadi negara keempat di ASEAN yang mendapat jaringan dealer resmi Tesla. Keputusan ini menempatkan Indonesia sebagai pasar besar yang belum tergarap langsung oleh Tesla, meski permintaan kendaraan listrik di dalam negeri terus tumbuh.