AMBON — Pengiriman perdana ikan tuna Yellowfin asal Maluku ke Thailand pada pekan lalu mendapat sambutan hangat dari pembeli di Bangkok. Kepala Kantor Bea Cukai Ambon Kurniawan Hari Purnomo menyebut respons positif itu menjadi sinyal awal terbukanya pasar Asia Tenggara bagi komoditas perikanan unggulan daerah.
“Respons positif dari pihak pembeli di Bangkok, Thailand diharapkan dapat membuka jalan bagi pengiriman rutin berikutnya,” kata Kurniawan di Ambon, Jumat (15/4/2026).
Menurut Kurniawan, Thailand dinilai strategis karena tingginya permintaan produk perikanan olahan di kawasan tersebut. Pengiriman perdana dilakukan oleh PT Lumbung Ikan Maluku (LIM) melalui jalur udara demi menjaga kualitas produk dan mempercepat distribusi.
Selama ini, ikan tuna Yellowfin Maluku lebih dikenal di pasar Amerika Serikat dan Jepang. Ekspor ke Thailand menjadi uji coba pertama di Asia Tenggara sekaligus langkah diversifikasi yang dinilai penting bagi pelaku usaha perikanan daerah.
Bea Cukai Ambon memberikan dukungan pelayanan kepabeanan untuk memastikan kelancaran proses ekspor perdana tersebut. Kurniawan mendorong agar langkah awal ini berkembang menjadi hubungan dagang berkelanjutan.
“Kami mendorong agar langkah awal ini dapat berkembang menjadi hubungan dagang yang berkelanjutan, sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha perikanan lainnya di Maluku untuk masuk ke pasar Asia Tenggara,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku, nilai ekspor Maluku selama triwulan I 2026 mencapai 10,79 juta dolar AS, seluruhnya dari komoditas nonmigas. Tiongkok masih menjadi negara tujuan utama, disusul Hongkong, sementara ikan dan udang tetap menjadi penopang utama ekspor daerah.
Diversifikasi pasar seperti ke Thailand dinilai Kurniawan sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi daerah berbasis komoditas unggulan perikanan Maluku.