JAKARTA — Pasar modal Indonesia bergerak di bawah tekanan berat pada awal pekan ini. IHSG dibuka langsung ambles ke posisi 6.584,76, setelah pada sesi preopening sempat turun 94,344 poin (1,40 persen) ke level 6.628,976. Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran investor yang masih tinggi terhadap prospek ekonomi global dan domestik.
Pelemahan IHSG terjadi berbarengan dengan tekanan lanjutan pada nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah melemah 33 poin (0,19 persen) ke posisi Rp 17.630 per dolar AS. Level ini merupakan salah satu yang terlemah dalam beberapa waktu terakhir, menambah beban bagi emiten yang memiliki utang dalam denominasi dolar.
Tekanan jual tidak hanya terjadi di dalam negeri. Mayoritas bursa saham Asia pagi ini juga bergerak di zona merah. Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 625,902 poin (1,02 persen) ke 60.783,398, sementara Hang Seng di Hong Kong melemah 274,500 poin (1,06 persen) ke 25.688,230. Indeks Straits Times di Singapura juga terkoreksi 16,089 poin (0,32 persen) ke 4.972,990.
Di tengah lautan merah tersebut, indeks SSE Composite di China justru mencatatkan penguatan tipis. Indeks acuan bursa Shanghai itu naik 2,399 poin (0,06 persen) ke level 4.137,790. Pergerakan ini menunjukkan adanya divergensi sentimen antara pasar China dengan kawasan Asia lainnya.
Koreksi tajam IHSG dan pelemahan rupiah terjadi di tengah sentimen risk-off yang masih mendominasi pasar keuangan global. Investor cenderung melepas aset berisiko dari negara berkembang dan beralih ke aset safe haven seperti dolar AS. Tekanan ini diperparah oleh data ekonomi AS yang masih kuat, memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga acuan The Fed akan tetap tinggi lebih lama.
Di sisi domestik, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter Bank Indonesia serta perkembangan nilai tukar rupiah yang terus mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah menjadi perhatian utama karena berpotensi meningkatkan biaya impor dan menekan margin perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor.
Dengan IHSG yang sudah kehilangan lebih dari 2 persen dalam sehari, pertanyaan besar kini mengemuka: apakah ini saatnya investor melakukan akumulasi atau justru wait and see? Analis menyarankan investor untuk mencermati level support teknis IHSG di kisaran 6.500. Jika level tersebut jebol, potensi koreksi lanjutan masih terbuka lebar. Sebaliknya, jika IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, peluang rebound teknikal bisa dimanfaatkan untuk trading jangka pendek.
Pasar akan terus memantau pergerakan rupiah dan data ekonomi global pekan ini sebagai penentu arah selanjutnya. Investor ritel disarankan tidak panik dan tetap berpegang pada strategi investasi jangka panjang yang telah direncanakan.