MALUKU — Kemenangan tipis Arsenal atas Everton di hari yang sama sudah tidak berarti apa-apa ketika peluit panjang berbunyi di Bournemouth. Manchester City, yang datang dengan misi wajib menang untuk menjaga asa juara, justru tampil tumpul dan hanya mampu mencetak satu gol melalui Erling Haaland di penghujung laga. Hasil ini memastikan The Citizens secara matematis tersingkir dari perebutan gelar.
Bournemouth menunjukkan performa yang membuat mereka layak finis di papan atas. Sisi kiri mereka menjadi senjata utama sepanjang pertandingan. Marcus Tavernier dan Adrien Truffert menjadi mimpi buruk bagi pertahanan City.
Gol pembuka lahir dari kerja sama keduanya di penghujung babak pertama. Truffert menarik bola dari garis tepi ke kotak penalti, lalu menyodorkannya kepada remaja Junior Kroupi yang berdiri bebas. Kroupi melepaskan tembakan melengkung ke sudut kanan atas gawang Djordje Petrovic tanpa bisa dihalau.
Manchester City nyaris tidak menciptakan peluang berarti sepanjang 90 menit. Bournemouth disiplin dalam bertahan dan kerap memutus rantai serangan di lini tengah. Peluang terbaik City selain gol Haaland datang dari Nico O'Reilly, namun sepakannya masih bisa diamankan Petrovic.
Gol penyeimbang Haaland baru tercipta di masa injury time. Bola liar hasil kemelut di kotak penalti disambar Rodri yang membentur tiang, lalu berhasil diselesaikan Haaland dengan tembakan yang memantul tiang dan masuk ke gawang. Sayang, waktu tidak berpihak pada pasukan Pep Guardiola.
Kegagalan City meraih kemenangan membuat Arsenal, yang sebelumnya sudah unggul tiga poin, dipastikan menjadi juara tanpa perlu menunggu pekan terakhir. Ini menjadi gelar Premier League pertama bagi Arsenal dalam dua dekade terakhir.
Bagi Bournemouth, hasil ini adalah pencapaian bersejarah. Andoni Iraola sukses membawa timnya lolos ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah klub. Mereka bahkan masih berpeluang mengamankan tiket Liga Champions jika menang di laga pamungkas nanti.