Desa Lohia di Seram Barat Tak Punya Akses Jalan dan Nakes, Nenek Stroke 70 Tahun Ditandu 5 Jam ke Puskesmas

Penulis: Oman Sudirman  •  Kamis, 21 Mei 2026 | 13:00:15 WIB
Warga Desa Lohia menandu nenek stroke selama lima jam menuju Puskesmas Buria.

SERAM BAGIAN BARAT — Warga Desa Lohia bergantian menggotong Belandina menggunakan sebatang bambu dan sehelai kain pada Rabu (20/5) sekitar pukul 09.00 WIT. Mereka melintasi medan pegunungan curam, jalan bebatuan, lumpur, hingga menyeberangi sungai. Beberapa kali rombongan berhenti di tengah hutan untuk mengisi perut dan memulihkan kondisi pasien.

Setibanya di perbatasan Desa Lohia dan Buria, mereka baru bisa menumpangi truk pickup yang melintas. Di desa tetangga itu, terdapat puskesmas yang menjadi satu-satunya harapan warga untuk mendapatkan pengobatan medis.

Desa Tanpa Nakes Selama Puluhan Tahun

Ferdinan, warga Desa Lohia, mengatakan bahwa di desanya tidak ada tenaga kesehatan sama sekali. "Keluarga minta bantuan warga untuk menandu ibu terkasih ke puskesmas terdekat," ujarnya, Kamis (21/5).

Menurut Ferdinan, kondisi Belandina mulai memburuk dalam satu minggu terakhir. Sebelum memutuskan menandu, keluarga sempat berjalan kaki satu jam ke kampung tetangga untuk mencari mantri keliling. "Kami tidak ada nakes, nakes cuma ada di Desa Buria, karena di sana ada puskesmas," katanya.

Ia mengaku kondisi ini sudah berlangsung sejak Indonesia merdeka. Pemerintah desa setempat sudah berkali-kali menyampaikan keluhan soal akses jalan ke Bupati Seram Bagian Barat, mulai dari bupati pertama Yakobus Puttileihalat, M. Yasin Payapo, hingga Asri Arman. Namun, hingga kini tidak ada respons.

Harapan ke Presiden Prabowo

Warga Desa Lohia berharap Presiden Prabowo Subianto bisa membangun jalan di wilayah mereka. "Kami sudah berulang kali mengadu ke bupati tapi tak kunjung direspons," ujar Ferdinan.

Desa Lohia masuk kategori desa termiskin di pelosok Pulau Seram Barat. Tanpa akses jalan yang layak, ambulans tidak bisa masuk ke kampung. Warga yang sakit harus mengandalkan tenaga manual dan alat seadanya untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat.

Belandina sendiri hanya bisa terbaring selama belasan tahun tanpa sentuhan pelayanan kesehatan. Keluarga sudah berusaha dengan pengobatan tradisional, namun kondisi tidak kunjung membaik. Perjalanan tandu dari Desa Lohia ke Puskesmas Buria menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa.

Kasus ini kembali mencuatkan persoalan klasik di daerah terpencil Indonesia: infrastruktur jalan yang tidak memadai dan distribusi tenaga kesehatan yang timpang. Pemerintah daerah setempat belum memberikan pernyataan resmi terkait keluhan warga Desa Lohia.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top