AMBON — Di tengah gempuran merek global yang mendominasi pasar fashion nasional, sebuah nama pendek namun sarat makna muncul dari Ambon, Maluku: ENE. Brand sepatu lokal ini lahir pada akhir 2021 dengan misi yang lebih dalam dari sekadar menjual alas kaki. Ia hadir untuk membawa cerita budaya Maluku ke dalam gaya hidup modern.
Semua berawal dari keresahan Alfredo Mauwa, sang pendiri. Bertahun-tahun, ia menyaksikan anak muda di Ambon lebih banyak memakai sepatu dari luar daerah, bahkan merek internasional. Di sisi lain, belum ada brand sepatu lokal dari Kota Ambon yang secara kuat merepresentasikan identitas Maluku.
"Bukan hanya membuat sepatu lokal biasa, tetapi menciptakan produk yang bisa menggabungkan budaya Maluku dengan gaya modern yang dekat dengan anak muda masa kini," ujar Alfredo, menjelaskan filosofi di balik ENE.
Nama ENE dipilih bukan tanpa alasan. Singkat dan sederhana, namun menyimpan makna yang kuat. Setiap desain sepatu yang diproduksi mengandung simbol-simbol adat, pesan tentang nilai kekeluargaan, dan pengingat agar anak muda tidak melupakan asal-usul mereka.
Bagi Alfredo, sepatu bukan sekadar bagian dari penampilan. Ia melihat alas kaki sebagai medium untuk membawa cerita budaya ke ruang yang lebih luas. Medium itu menjembatani tradisi dengan selera anak muda masa kini.
Meski masih tergolong muda—baru beroperasi pada Desember 2021—ENE langsung memiliki karakter yang membedakannya dari produk fashion lokal lain. Brand ini tidak sekadar mengejar tren pasar, tetapi secara konsisten membangun identitas yang berakar pada budaya setempat.
Dari Ambon, gerakan kecil itu kini perlahan berkembang. ENE mulai menarik perhatian tidak hanya di Maluku, tetapi juga di luar daerah. Ia menjadi representasi bahwa industri kreatif bisa tumbuh dari Timur Indonesia dengan mengangkat kearifan lokal sebagai kekuatan utama.