AMBON — Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath menyebut tradisi penyembelihan hewan kurban di kediaman tokoh masyarakat perlu terus dipertahankan. Menurutnya, momen Idul Adha selama ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga mempererat hubungan sosial melalui budaya saling membantu dan berbagi daging kurban kepada warga yang membutuhkan.
“Tradisi seperti ini jangan sampai hilang. Dulu suasana kurban di kampung-kampung sangat terasa, ada kebersamaan, gotong royong, dan syiar Islam yang kuat. Itu yang harus tetap dijaga,” kata Abdullah Vanath saat pelaksanaan penyembelihan hewan kurban Idul Adha 1447 Hijriah di kediamannya di kawasan Karang Panjang, Ambon, Kamis.
Ia menambahkan, di sejumlah wilayah Maluku, Idul Adha diwarnai dengan gotong royong warga mempersiapkan penyembelihan, pembagian daging secara merata, hingga prosesi arak-arakan hewan kurban yang dipadukan dengan seni budaya Islam lokal. Tradisi ini masih dijumpai di beberapa negeri atau desa Muslim di Pulau Ambon, Pulau Seram, maupun wilayah Lease seperti Tulehu dan Liang.
Selain arak-arakan, sejumlah komunitas Muslim di Maluku juga mempertahankan tradisi pembacaan takbir keliling, hadrat, serta pertunjukan kesenian Islam seperti Dabus hingga Abdau. Kesenian ini biasanya ditampilkan pada momentum hari besar keagamaan, termasuk Idul Adha.
Pada Idul Adha tahun ini, hewan kurban yang disembelih di kediaman Wakil Gubernur Maluku terdiri atas satu ekor sapi jenis Limousin dengan berat sekitar 1,15 ton dan satu ekor kambing. Daging kurban selanjutnya dibagikan kepada masyarakat yang berhak menerima melalui koordinasi bersama Panitia Hari Besar Islam (PHBI).
Abdullah Vanath berharap tradisi ini terus dijaga sebagai sarana mempererat silaturahmi dan kedekatan antara pemimpin dan warga. “Pelaksanaan kurban selama ini tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga mempererat hubungan sosial masyarakat,” ujarnya.