MALUKU — Ketika Tesla Roadster dan Nissan Altra EV sudah lebih dulu menggunakan baterai lithium-ion, keduanya adalah mobil listrik murni (BEV) dengan volume produksi sangat terbatas. Nissan Altra EV misalnya, hanya diproduksi 200 unit dan tidak dijual ke publik, melainkan disewakan ke perusahaan komersial. Baru pada 2009, Mercedes-Benz S400 BlueHybrid menjadi mobil hybrid produksi massal pertama yang mengandalkan baterai lithium-ion sebagai sumber tenaga tambahan.
Dibandingkan baterai NiMH yang mendominasi era sebelumnya, lithium-ion memiliki keunggulan signifikan. Baterai ini 30-40 persen lebih ringan, lebih kompak, dan memiliki kepadatan energi mencapai 270 watt-jam per kilogram (Wh/kg), jauh di atas NiMH yang hanya 60-120 Wh/kg. Artinya, baterai lithium-ion bisa menyimpan lebih banyak energi dalam ruang dan bobot yang lebih kecil.
Namun, tantangan terbesar baterai lithium-ion adalah volatilitasnya. Elektrolit cair di dalamnya berpotensi terbakar jika suhu tidak terkontrol. Mercedes mengatasi risiko ini dengan mengintegrasikan baterai langsung ke sistem pendingin mobil, menjaga suhu optimal antara 59 hingga 95 derajat Fahrenheit. Solusi ini membuktikan bahwa lithium-ion bisa diandalkan dalam kondisi suhu otomotif yang ekstrem.
Berbeda dengan saudara-saudaranya yang menggendong mesin V8 atau V12, S400 BlueHybrid mengandalkan mesin V6 3.500 cc siklus Atkinson. Motor listrik 15 kW yang tertanam di rumah konverter torsi antara mesin dan transmisi otomatis 7-percepatan menyumbang tambahan 20 dk dan torsi 118 lb-ft. Total output sistem mencapai 295 dk dengan torsi 284 lb-ft.
Saat deselerasi—seperti pengereman atau meluncur—mesin bensin mati di bawah kecepatan 9 mph, dan motor listrik berfungsi sebagai generator untuk memulihkan energi yang hilang. Energi ini disimpan di baterai lithium-ion 120 volt yang menggantikan aki starter konvensional di ruang mesin. Hasilnya, S400 BlueHybrid mampu mencatat akselerasi 0-96 km/jam dalam 7,1 detik dan kecepatan tertinggi dibatasi elektronik di 250 km/jam.
Berkat dukungan mild-hybrid, S400 BlueHybrid meraih angka konsumsi BBM 19 mpg dalam kota, 25 mpg jalan tol, dan 21 mpg kombinasi (setara sekitar 8,9-12,4 km/liter). Sebagai perbandingan, S550 bermesin V8 5.500 cc hanya mencatat 15 mpg kota, 23 mpg tol, dan 18 mpg kombinasi. Tak heran, S400 BlueHybrid menjadi varian S-Class paling efisien pada masanya.
Saat ini, baterai lithium-ion sudah menjadi komponen wajib di hampir semua mobil hybrid dan listrik global. Data International Energy Agency (IEA) mencatat, pada 2025 satu dari empat mobil baru yang terjual di dunia adalah kendaraan listrik atau hybrid. Semua berawal dari langkah berani Mercedes-Benz pada 2009 yang membuktikan bahwa teknologi ini bisa diandalkan untuk produksi massal.