MALUKU — Keputusan Kevin Keegan meninggalkan Liverpool pada 1977 adalah salah satu transfer paling berani dalam sejarah sepak bola Inggris. Saat itu, ia baru saja mengantar The Reds meraih Piala Eropa pertama mereka, dan menjadi bintang utama di Anfield. Namun, Keegan merasa karirnya butuh tantangan baru, dan Hamburg menjadi satu-satunya klub yang datang menawarkan peluang itu.
Keegan menegaskan bahwa keputusannya bukan didasari oleh ketidakcintaannya pada Liverpool. Ia justru mengaku sangat menikmati masa-masa di Anfield, baik bersama rekan setim maupun para pendukung. Justru, perasaan stagnan yang membuatnya memilih pergi.
"Saya merasa mandek di Liverpool, meskipun saya mencintai klub, para penggemar, dan para pemain," ujar Keegan dalam wawancara dengan FourFourTwo pada 2007. "Saya butuh perubahan; saya bukan tipe karakter yang bertahan di satu klub sepanjang hidupnya."
Dari segi finansial, tawaran Hamburg sangat sulit ditolak. Klub Bundesliga tersebut memberikan gaji empat kali lipat dari yang ia terima di Liverpool, sebuah nominal yang "luar biasa" menurut Keegan. Faktor lain yang memuluskan kepindahan adalah kemampuan sang istri, Jean, yang fasih berbahasa Jerman.
"Hamburg menawari saya gaji empat kali lipat dari yang saya terima, yang luar biasa. Jadi secara finansial itu tepat, dan istri saya bisa berbahasa Jerman, yang merupakan awal yang bagus," kata Keegan. "Saya hanya berpikir, 'Itulah jenis tantangan yang ingin saya coba'."
Kepindahan itu terbukti sukses besar. Selama membela Hamburg, Keegan memenangkan Ballon d'Or dua kali secara beruntun, sebuah pencapaian yang belum pernah ditandingi pemain Inggris lainnya hingga kini. Ia juga mengantarkan Hamburg meraih gelar juara Bundesliga dan mencapai final Piala Eropa 1980.
Meski sukses di lapangan, ada satu hal yang tidak pernah bisa diterima Keegan dari budaya Jerman: sosis. Pria yang kini berusia 73 tahun itu mengaku tidak menyukai makanan khas tersebut, yang menurutnya sulit dihindari di Jerman.
"Saya tidak suka sosis — sayangnya, saya tidak bisa lepas dari mereka di Jerman!" keluhnya. Namun, ada satu hal yang sangat ia sukai, yaitu kue-kue Jerman. "Saya suka kue di sana, meskipun pelatih saya tidak suka. Ada toko kue yang fantastis di sebelah tempat latihan... tapi saya tidak pernah menjadi penggemar sosis."