Dyah Puspita, pemilik kedai Mie Sagu Cempaka di Ambon, mencatat sekitar 80 persen dari total transaksi hariannya yang mencapai rata-rata Rp3 juta kini beralih ke QRIS. Pergeseran ini terjadi seiring gencarnya edukasi dan pendampingan yang dilakukan Pemerintah Kota Ambon bersama Bank Indonesia Perwakilan Maluku sejak Maret 2026. Hasilnya, omzet harian kedai tersebut melonjak hingga 20 persen, menjadi bukti nyata digitalisasi mengubah peta bisnis UMKM lokal.
AMBON — Suasana pagi di kedai Mie Sagu Cempaka di Ambon tak lagi diiringi suara gemerincing uang logam yang jatuh ke laci kasir. Yang terdengar kini adalah denting halus notifikasi dari mesin pemindai kode. Pelanggan cukup mengarahkan kamera ponselnya ke selembar kode persegi hitam-putih yang terpajang di meja, transaksi pun selesai dalam hitungan detik.
Omzet Naik dan Pembukuan Rapi Berkat Satu Kode
Kebiasaan baru ini membawa berkah tersendiri bagi Dyah Puspita, pemilik kedai Mie Sagu Cempaka. Ia mengaku aliran kas usahanya kini tercatat rapi tanpa kendala berarti, sebuah kemajuan besar dibanding sistem pembukuan manual yang selama ini merepotkan.
Dampaknya langsung terasa pada kantong. Sejak memajang kode QRIS, jumlah pelanggan di kedainya melonjak sekitar 20 persen. Angka ini sejalan dengan laporan Dyah bahwa sekitar 80 persen dari total transaksi harian senilai rata-rata Rp3 juta telah memanfaatkan sistem pembayaran digital tersebut.
Pemkot dan BI: Ruang Terbuka Jadi Laboratorium Digital
Perubahan di kedai Dyah bukan peristiwa tunggal. Di sejumlah ruang publik seperti RTP Wainitu, Air Salobar, hingga kawasan Amahusu, terlihat aktivitas serupa. Ruang-ruang ini kini menjelma menjadi laboratorium hidup ekonomi digital, tempat warga dan pedagang belajar memanfaatkan teknologi.
Gerakan ini merupakan hasil kerja sama Pemerintah Kota Ambon dengan Bank Indonesia Perwakilan Maluku sejak Maret 2026. Keduanya bergerilya dengan cara yang nyata, bukan sekadar imbauan di atas kertas.
Mereka menggelar edukasi perlindungan konsumen dan pendampingan langsung dalam proses akuisisi merchant QRIS. Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, menegaskan bahwa digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan kebutuhan mendesak demi menjaga daya saing UMKM lokal.
Ambon Menjadi Tuan Rumah Pesta Kuliner Digital SULAMPUA
Langkah Pemkot Ambon tak berhenti pada penerapan teknologi di meja kasir. Perubahan cara bertransaksi ini sengaja dirajut erat dengan penguatan sektor lain, terutama pariwisata dan ekonomi kreatif. Buktinya, Kota Ambon terpilih menjadi salah satu panggung utama gelaran QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026.
Ajang ini bukan sekadar pesta kuliner untuk memperkenalkan transaksi nontunai. Lebih dari itu, acara ini menjadi wadah bagi perajin rasa lokal untuk memanfaatkan teknologi demi menembus pasar yang lebih luas, seperti yang mulai terlihat di Negeri Rutong, di mana sentuhan teknologi digital membaur dengan potensi ekonomi berbasis warga.
Seremoni Kick-Off QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026 untuk wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (SULAMPUA) resmi digelar di Ambon, menegaskan posisi kota ini sebagai ujung tombak pengenalan QRIS di kawasan timur Indonesia.