MALUKU — Lembaga riset GREAT Institute menilai fondasi pertumbuhan ekonomi nasional masih utuh, tetapi komposisi mesin pertumbuhan mulai bergeser. Pada paruh pertama tahun ini, konsumsi rumah tangga dan dorongan fiskal menjadi bantalan utama. Memasuki Juli–Desember, tambahan akselerasi dinilai harus datang dari belanja modal swasta dan aktivitas produktif.
Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menyebut proyeksi 5,3–5,6 persen adalah optimisme dengan prasyarat. Menurutnya, konsumsi tetap menjadi fondasi, tetapi tanpa investasi yang berdenyut, pertumbuhan berisiko kehilangan tenaga.
"Semester I banyak terbantu oleh konsumsi dan dorongan fiskal. Memasuki Semester II, konsumsi tentu tetap menjadi fondasi pertumbuhan, tetapi tambahan akselerasi semakin perlu datang dari investasi dan aktivitas produktif sektor swasta," ujar Adrian dalam paparan GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026, dikutip Jumat (15/8).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi pemerintah melonjak 18,62 persen secara tahunan pada semester I, sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen pada triwulan kedua. Namun, GREAT Institute mengingatkan ketahanan konsumsi tidak boleh dibaca dari satu angka saja.
Indeks keyakinan konsumen turun dari 123,0 pada April menjadi 116,8 pada Juli. Penjualan ritel sempat terkontraksi pada April hingga Juni sebelum diprakirakan tumbuh tipis 0,9 persen pada Juli. Artinya, rumah tangga belum mengurangi belanja secara drastis, tetapi mulai selektif.
"Menjaga pendapatan riil dan pekerjaan menjadi lebih penting daripada sekadar mendorong konsumsi sesaat," tegas Adrian.
Di sisi lain, indikator sektor usaha justru menunjukkan ekspansi. Konsumsi listrik sektor bisnis dan industri tumbuh masing-masing 10,04 persen dan 6,54 persen secara tahunan. Penjualan mobil niaga meningkat 30,12 persen hingga Juni, menandakan aktivitas operasional dan distribusi perusahaan masih berjalan agresif.
Sinyal perbaikan investasi mulai terlihat nyata. Realisasi investasi semester I 2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Pada Juli, kredit investasi melesat 23,1 persen secara tahunan dan kredit modal kerja tumbuh 11,6 persen.
GREAT Institute menilai pemerintah perlu memastikan pembiayaan yang tersedia benar-benar berubah menjadi belanja modal, ekspansi kapasitas produksi, dan penciptaan lapangan kerja. Peran negara disebut harus bergeser dari sekadar pemberi impuls langsung menjadi pengungkit aktivitas ekonomi yang lebih besar.
"Jangan lagi hanya fokus apakah uang tersedia, tetapi apakah pembiayaan benar-benar berubah menjadi belanja modal swasta," kata Adrian.
GREAT Institute menekankan pergeseran strategi fiskal dari spending more menuju spending better. Belanja negara tetap diperlukan untuk menjaga daya beli dan pelayanan dasar, tetapi kualitas pengeluaran menjadi semakin penting setelah sebagian dorongan fiskal telah dieksekusi lebih awal.
Lingkungan eksternal belum bersahabat. Rata-rata Global Economic Policy Uncertainty sepanjang semester I tercatat sekitar 68 persen di atas rata-rata 2024. Indeks risiko geopolitik juga lebih tinggi 55 persen dibandingkan periode yang sama.
Meski proyeksi GREAT Institute berada di atas perkiraan IMF dan Bank Dunia yang sekitar 5 persen, Adrian menegaskan hal itu bukan berarti risiko telah hilang. Stabilitas makro dan momentum domestik yang sudah terbentuk menjadi kunci agar Indonesia bisa tumbuh di atas perkiraan lembaga internasional.
"Pertumbuhan Semester I menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia lebih resilien daripada kesan yang kadang muncul di ruang publik," pungkasnya.