NAMLEA — Langkah antisipasi terhadap potensi kebakaran di musim kemarau mendorong Lapas Kelas III Namlea untuk memperkuat sinergi dengan instansi penanggulangan bencana. Kunjungan itu dilakukan sebagai tindak lanjut arahan Direktur Jenderal Pemasyarakatan tentang peningkatan kewaspadaan terhadap bencana alam dan non alam di setiap Unit Pelaksana Teknis (UPT) pemasyarakatan.
Lapas Namlea berada di kawasan yang minim pemukiman dan didominasi semak serta pepohonan. Kondisi geografis ini disebut meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran, terlebih saat kemarau melanda.
"Kebetulan di Lapas Namlea kebanyakan dikelilingi pepohonan lebat dan rerumputan tinggi tentunya dapat meningkatkan resiko kebakaran apalagi di tengah musim kemarau seperti sekarang ini," ujar Sofian.
Sofian menegaskan bahwa upaya mitigasi tidak bisa berjalan sendiri. Menurutnya, komunikasi antara instansi vertikal dan pemerintah daerah menjadi kunci agar penanggulangan serta deteksi dini dapat berjalan efektif dan terstruktur.
"Upaya mitigasi bencana perlu kita jalin instansi vertikal atau pemerintah daerah sehingga penanggulangan, pencegahan, dan deteksi dini bisa dilakukan secara efektif dan terstruktur," kata Sofian saat diterima oleh Kepala Bidang Damkar Kabupaten Buru, Bahrun Nurlatu.
Pihak Damkar Kabupaten Buru menyambut baik inisiatif Lapas Namlea. Bahrun Nurlatu menyatakan kesiapannya membantu jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat di lingkungan lapas.
"Menanggulangi kebakaran sudah menjani kewajiban dan tugas kami, oleh karena itu, Lapas Namlea dapat langsung menghubungi kami apabila terjadi keadaan darurat. Kedepan mungkin kita bisa agendakan simulasi bencana kebakaran agar petugas Lapas lebih siap dan sigap," ujar Bahrun.
Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi koordinasi yang lebih erat, termasuk kemungkinan digelarnya simulasi penanggulangan kebakaran guna meningkatkan kesiapsiagaan para petugas Lapas Namlea.