MALUKU BARAT DAYA — Perekonomian Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) menunjukkan laju positif sepanjang tahun lalu. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Agustus 2026, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) menembus angka Rp3,44 triliun.
Angka tersebut mengalami kenaikan signifikan dari posisi tahun 2024 yang berada di level Rp3,2 triliun. Jika diukur dari harga konstan (ADHK), pertumbuhan ekonomi riil MBD mencapai 3,49 persen, mengindikasikan ekspansi aktivitas produksi barang dan jasa di daerah kepulauan ini.
Angka Ini Bukan Sekadar Statistik, tapi Cermin Aktivitas Warga
Pertumbuhan 3,49 persen ini bukan semata angka di atas kertas. Bagi warga di Tiakur, Pulau Wetar, hingga Kepulauan Babar, kenaikan ini berarti perputaran uang di pasar-pasar tradisional dan pelabuhan lebih hidup dibanding tahun sebelumnya.
Namun, perlu dicermati bahwa laju ini masih di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Artinya, meski menguat, daya ungkit ekonomi MBD masih perlu dorongan lebih, terutama di sektor-sektor unggulan yang selama ini menjadi penopang utama.
Sektor Apa yang Paling Berkontribusi?
Data BPS menunjukkan komposisi PDRB MBD masih didominasi oleh sektor-sektor primer. Sayangnya, rincian lengkap kontribusi masing-masing sektor pada 2025 belum dirilis secara detail oleh BPS dalam publikasi terbaru.
Meski demikian, karakteristik geografis MBD yang terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil mengindikasikan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan tetap menjadi tulang punggung ekonomi. Aktivitas perdagangan dan jasa antar-pulau juga disebut-sebut turut mendongkrak angka pertumbuhan.
Proyeksi ke Depan: Tantangan Konektivitas dan Harga Logistik
Para pengamat ekonomi daerah menilai, untuk menjaga momentum pertumbuhan di atas 3 persen, pemerintah kabupaten perlu fokus pada pengendalian harga logistik. Pasalnya, biaya distribusi barang antar-pulau di MBD kerap menjadi biang inflasi yang menggerus daya beli masyarakat.
Perbaikan infrastruktur dasar seperti dermaga dan jalan penghubung di pulau-pulau besar menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda. Jika konektivitas membaik, aktivitas ekonomi di wilayah-wilayah terpencil berpotensi tumbuh lebih cepat lagi pada tahun-tahun mendatang.
Dengan tren positif ini, optimisme terhadap perekonomian MBD pada 2026 cukup beralasan. Apalagi jika pemerintah daerah mampu menarik investasi di sektor pengolahan hasil laut dan pertanian, nilai tambah yang tercipta di dalam daerah akan semakin besar.