Pencarian

Google Pixel Butuh "Momen Ryzen" untuk Chip Tensor, Bukan Sekadar AI

Minggu, 13 September 2026 • 20:34:32 WIB
Google Pixel Butuh
Ponsel Google Pixel terpajang dalam peluncuran produk di Mountain View, California.

MALUKUGoogle Pixel punya reputasi kuat berkat software bersih, fitur kamera mumpuni, dan pembaruan fitur yang rutin. Namun satu elemen selalu jadi catatan: chip Tensor. Performa mentahnya dinilai belum sepadan dengan harga Pixel yang menembus 1.000 dolar AS (setara Rp 16,5 juta).

Kritik ini bukan soal benchmark semata. Ada kekhawatiran bahwa Google terlalu lama mengandalkan peningkatan inkremental sambil menjual narasi AI, tanpa memberi lompatan performa nyata yang dirasakan pengguna sehari-hari.

Mengapa Chip Tensor Jadi Titik Lemah Pixel

Sejak generasi pertama, Tensor memang dirancang untuk kebutuhan AI dan machine learning. Tapi pendekatan itu datang dengan kompromi: efisiensi daya dan performa puncak yang kalah dari chip Qualcomm kelas atas.

Sebagian masalah awal bersumber dari lini produksi Samsung Foundry. Chip Exynos punya reputasi kurang baik soal manajemen panas. Ketika Qualcomm sempat memakai node 4nm Samsung untuk Snapdragon 8 Gen 1, hasilnya juga kurang memuaskan—sampai akhirnya Qualcomm pindah ke TSMC lewat Snapdragon 8+ Gen 1 dan menuai perbaikan efisiensi signifikan.

Google tampaknya menyadari jalur keluar serupa. Perusahaan beralih ke TSMC untuk Tensor generasi terbaru. Ekspektasi pun naik: arsitektur baru di node yang lebih baik diharapkan memberi lompatan performa yang selama empat generasi tertunda.

Dua Generasi TSMC, Lompatan yang Dinanti Belum Datang

Kini Google sudah dua generasi memakai fabrikasi TSMC, dengan Tensor G5 dan Tensor G6 yang menggerakkan lini Pixel 11. Sebagian masalah lama memang hilang. Tapi celah performa dengan Qualcomm masih terlihat jelas.

Peningkatan tahun ke tahun terbilang lumayan, hanya saja bukan lompatan besar yang diharapkan penggemar sebelum peralihan ke TSMC. Harapan itu sebagian besar tumbuh dari bocoran dan spekulasi, bukan konfirmasi resmi.

Yang tersisa adalah rasa frustrasi. Google dianggap membiarkan Qualcomm terus memperlebar jarak performa, sementara Pixel tetap dijual dengan harga premium.

Paralel dengan Sejarah AMD dan Intel

Ada analogi yang sering muncul di komunitas penggemar Pixel. Pada era 2010-an, AMD tertinggal jauh dari Intel di pasar CPU desktop. Arsitektur Bulldozer yang dipakai seri FX dianggap gagal: chip berjalan panas, boros daya, dan dalam banyak kasus kalah dari generasi Phenom II milik AMD sendiri.

Intel memanfaatkan situasi itu. Tanpa tekanan kompetitif, pasar konsumen terjebak pada monopoli empat inti selama hampir satu dekade. Inovasi pun melambat.

Semuanya berubah ketika AMD meninggalkan Bulldozer dan membangun arsitektur Zen. Pada 2017, prosesor Ryzen 1000 series meledak di pasar. Performa multi-thread-nya menyaingi chip Intel seharga 1.000 dolar AS lebih. Sejak itu AMD terus menekan Intel di hampir semua segmen.

Paralelnya dengan Tensor cukup jelas. Google, seperti AMD di 2012, mengorbankan efisiensi hardware demi mengejar sesuatu yang dinilai kurang penting—dalam hal ini narasi AI. Padahal sejumlah chip Qualcomm yang tersedia di pasaran justru lebih unggul dalam pemrosesan AI saat ini.

Yang Sebenarnya Dibutuhkan Pengguna Pixel

Banyak pengguna mungkin tidak peduli pada angka benchmark. Selama ponsel lancar untuk media sosial, kamera, dan aplikasi harian, performa puncak bukan prioritas.

Masalahnya, celah performa yang terus melebar berisiko muncul sebagai masalah di masa depan. Aplikasi makin berat, fitur AI on-device makin kompleks, dan siklus pembaruan Pixel yang panjang menuntut chip yang mampu bertahan bertahun-tahun.

Di titik itu, "cukup baik" tidak lagi memadai. Google butuh momen Ryzen-nya sendiri: lompatan arsitektur yang mengubah posisi Tensor dari sekadar memadai menjadi kompetitif.

Fondasi menuju ke sana sudah ada lewat peralihan ke TSMC. Pertanyaannya tinggal seberapa cepat Google mengubah fondasi itu menjadi lompatan generasional yang nyata—sebelum jarak dengan Qualcomm makin sulit dikejar.

Follow kabarambon.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: 9to5google.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks