MALUKU — Lena Khan menyutradarai film "Best of the Best" yang tayang perdana di Netflix dan mengangkat dunia kompetisi dansa Bollywood fusion di kampus-kampus Amerika Serikat. Naskahnya ditulis Hasan Minhaj bersama Prashanth Venkataramanujam, yang keduanya pernah mengikuti kompetisi serupa semasa muda. Film ini mengikuti dua sahabat masa kecil, Maya dan Anjali, yang bergabung dengan tim dansa kompetitif UCLA.
Premis dan Tim Produksi
"Best of the Best" mengikuti Maya dan Anjali, sahabat sejak kecil yang bergabung dengan tim dansa kompetitif UCLA. Keduanya kemudian menyadari jalan menuju Kejuaraan Amerika Serikat jauh lebih keras dan kompetitif dari yang mereka bayangkan.
Khan mengaku sempat ragu mengambil proyek ini. Ia sempat menyebut proyek ini kepada seorang teman masa kecil, yang merespons dengan nada meremehkan. "Bollywood competitions, really?" kata teman Khan, yang menurutnya mencerminkan pandangan lebih luas.
"I think South Asians, especially in the diaspora, are so used to not even having our own self-respect," ujar Khan.
Kesadaran itu membentuk pendekatan Khan terhadap tone film. Ia ingin "Best of the Best" tampil dengan sikap yang berbeda dari penggambaran lama orang Asia Selatan di Hollywood.
"We have so much respect for the skill sets of other cultures. We're looking at kung fu, we're looking at these different arts. But when we look at our own, we're used to seeing ourselves as Apu or as the funny nerdy side characters," kata Khan. "We can be proud of things that we do as South Asians."
Riset dari Sirkuit Kompetisi
Minhaj dan Venkataramanujam menulis naskah berdasarkan pengalaman pribadi. Istri Minhaj pernah menekuni dansa kompetitif, sementara Venkataramanujam tampil bersama tim a cappella bernama Chai Town. Pengalaman itu memberinya gambaran langsung soal betapa menyita sirkuit kompetisi ini.
Khan sendiri menghabiskan waktu bersama tim dansa UCLA dan bepergian ke North Carolina untuk mengamati kompetisi sebagai persiapan. Pengalamannya menyutradarai episode "Never Have I Ever" di Netflix turut memengaruhi cara ia memandang representasi.
"When you have more than one of a minority character, then there's suddenly become real characters," ujarnya. "You get to focus on the humanity between them, the things that become relatable to everybody else."
Transformasi Maitreyi Ramakrishnan hingga Koreografi
Proses casting menuntut aktor yang mampu membawa komedi sekaligus kedalaman. Beberapa pemain, termasuk Maitreyi Ramakrishnan, belum pernah menekuni dansa kompetitif sebelum mendapat peran. Khan mengingat bagaimana ia mendorong Ramakrishnan menjalani transformasi fisik saat casting.
"I need you to give me some Channing Tatum energy. And then I was like, no, actually, I need you to do a Christian Bale on me. I need a complete athletic transformation," kata Khan. Ramakrishnan kemudian menjalani latihan dansa intensif selama berbulan-bulan sebelum pengambilan gambar.
Khan membangun sekuens dansa bersama koreografer Phillip Chbeeb dan Makenzie Dustman, dengan Joya Kazi sebagai co-choreographer. Setiap nomor dansa didekati dengan satu pertanyaan pemandu.
"What is the essence we are trying to bring out in this particular moment?" ujar Khan. Jika sekuens dansa Bollywood biasanya mendapat waktu syuting lima hari, produksi ini sering hanya punya satu hari. Koreografinya juga mengambil berbagai gaya regional, termasuk Kuthu, Bharatanatyam, dan dansa berpengaruh Pakistan.
Perubahan Industri dan Harapan Lena Khan
Khan, yang sebelumnya menyutradarai film independen "The Tiger Hunter", menilai hubungan industri dengan cerita Asia Selatan sudah bergeser sejak 2016. Meski begitu, sejumlah batasan struktural masih tersisa.
"We still don't have that many romances or romantic comedies with South Asians," ujarnya, seraya menyoroti bahwa pria Asia Selatan sering tidak diberi kesempatan memainkan peran utama. Film ini membalik dinamika itu dalam castingnya.
"The nerdy minority character is actually a white guy. Like we have a token white guy," kata Khan. Ia juga mengapresiasi gelombang musisi dan aktor Asia Selatan, termasuk Joy Crookes yang lagunya ia perjuangkan masuk ke soundtrack. "And now we're like, well, we've really made it when we make a movie that's just good."
Filosofi itu juga berlaku pada seberapa banyak konteks budaya yang dijelaskan untuk penonton global Netflix. Khan menolak tekanan untuk menjelaskan referensi Asia Selatan secara berlebihan, dan percaya acara seperti "Never Have I Ever" sudah membuktikan penonton tidak butuh semuanya dijabarkan.
"At some point this country and the world is just full of people in different cultures," ujarnya.
Bekerja dengan Minhaj dan Venkataramanujam, yang keduanya debut sebagai penulis film fitur, berarti sering terjadi perbedaan kreatif. Namun, menurut Khan, perdebatan itu selalu punya alasan yang matang.
"There would be such a thoughtful reason that we were always fighting over why we're doing a certain thing, but it was never for a vapid reason," katanya. "And they're also just the most gracious people."
Ke depan, Khan menyatakan ketertarikannya pada proyek yang berpusat pada orang atau subjek yang terlewatkan, di samping proyek pribadi yang sudah ia kerjakan.