MALUKU — Laskar Mataram memang telah bergerak agresif dengan mendatangkan lima pemain asing dan dua pemain lokal. Namun, di balik aktivitas transfer yang ramai itu, tersimpan sebuah tantangan besar yang dihadapi sang arsitek asal Belanda di lini manajemen klub.
Menariknya, kelima pemain impor anyar tersebut—Ondrej Rudzan, Adrian Purzycki, Adrian Dalmau, Mauro Caballero, dan Marvin Loria—bukanlah hasil rekomendasi langsung dari Van Gastel. Pelatih berusia 54 tahun itu mengaku belum pernah bekerja sama maupun berhadapan dengan mereka sebelumnya.
"Tidak. Tidak ada satupun," ujar Van Gastel ketika ditanya soal pengalamannya dengan para pemain asing anyar tersebut.
Ketiadaan sosok manajer tim seperti Razzi Taruna yang hengkang di akhir musim lalu menjadi celah besar. Posisi itu sebelumnya berperan vital dalam penyusunan skuad, dan kini kekosongan itu diisi oleh sistem jaringan serta rekomendasi agen yang mengirimkan video.
Van Gastel menegaskan bahwa menilai pemain hanya dari tayangan video adalah langkah berisiko tinggi. Ia bahkan menganalogikannya dengan dirinya sendiri yang bisa tampak seperti legenda Ajax, Johan Cruyff, dalam rekaman latihan singkat.
"Kalau saya latihan dua kali lalu dibuatkan video kompilasi, orang bisa mengira 'saya ini Johan Cruyff'. Jadi, sangat sulit menilai pemain hanya dari itu untuk didatangkan," lanjutnya.
Proses ini dinilai sangat kontras dengan sistem di Eropa yang biasanya melibatkan direktur teknik dalam setiap keputusan komposisi tim. Van Gastel menyebut perbedaan sistem kerja di Indonesia ini sebagai proses yang "sulit dan rumit".
Selain pemain, PSIM juga mendatangkan pelatih kiper asal Italia, Mario Capece. Sama seperti pemain asingnya, Van Gastel mengaku baru mengenal Capece melalui proses pencarian yang dilakukan klub untuk mengisi posisi tersebut.
"Tidak. Saya tidak mengenalnya, tetapi saya sedang mencari pelatih kiper asing dan dari situlah kami mendapatkan Mario," ungkap Van Gastel.
Tim yang bermarkas di Stadion Mandala Krida ini telah memanaskan mesin sejak tiga pekan lalu. Fokus utama saat ini adalah membangun chemistry antara pemain baru dan lama sebelum kompetisi BRI Super League 2026/2027 resmi bergulir pada 4 September mendatang.
Selain merekrut tujuh pemain anyar, manajemen juga memperpanjang kontrak belasan pemain musim lalu, termasuk nama-nama seperti Riyatno Abiyoso, Raka Cahyana, Cahya Supriadi, dan Ghulam Fatkur untuk menjaga stabilitas skuad.