GSMA: Indonesia Fokus Maksimalkan 5G Dulu, Jangan Terburu-buru Kejar 6G

Penulis: Nurul Huda  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:25:01 WIB
Julian Gorman, Head of Asia Pacific GSMA, menyampaikan paparan dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

MALUKU — Perdebatan mengenai generasi jaringan telekomunikasi berikutnya mulai mengemuka di Indonesia. Namun, asosiasi industri telekomunikasi global GSMA justru mengingatkan agar Indonesia tidak terburu-buru mengejar teknologi 6G, melainkan fokus menyelesaikan pekerjaan rumah adopsi dan monetisasi jaringan 5G yang sudah berjalan.

Mengapa 5G Lebih Prioritas daripada 6G?

Head of Asia Pacific GSMA, Julian Gorman, menyatakan standar 6G baru akan mulai terbentuk sekitar tahun 2028. Jaringan komersial 6G pertama pun diperkirakan baru hadir pada 2030, dan hanya di pasar paling maju seperti Korea Selatan.

“6G akan mulai hadir. Namun, fokus saat ini sebenarnya adalah memastikan kita melakukan monetisasi dan mengubah 5G menjadi transformasi ekonomi yang bermakna,” ujar Julian dalam virtual media roundtable GSMA, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, Indonesia perlu membangun ekosistem inovasi yang memanfaatkan kemampuan 5G. Teknologi ini menawarkan latensi rendah, kapasitas besar, dan konektivitas yang dibutuhkan sektor industri.

Era 4G dan Harapan Transformasi di Sektor Industri

GSMA mencontohkan bagaimana era 4G melahirkan layanan digital seperti Gojek dan Tokopedia. Transformasi serupa diharapkan terjadi pada era 5G, dengan penerapan di pabrik, pelabuhan, bandara, dan sektor industri lainnya.

Indonesia saat ini berada dalam fase foundational build-out infrastruktur 5G. Pertumbuhan jaringan ini akan bergantung pada investasi berkelanjutan, ketersediaan spektrum, dan harga perangkat yang semakin terjangkau.

Meski penetrasi 5G Indonesia terlihat lebih rendah dibandingkan negara lain, GSMA menilai Indonesia tidak bisa disebut lambat. Salah satu alasannya, Indonesia memulai 5G dengan memanfaatkan spektrum yang sudah tersedia. Pelepasan spektrum baru melalui lelang dinilai menjadi titik awal penting untuk mempercepat pengembangan jaringan.

Adopsi Bukan Satu-satunya Ukuran Keberhasilan

GSMA mengingatkan bahwa tingkat adopsi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan 5G. “Tidak semua orang membutuhkan 5G,” kata Jeanette Whyte, Head of Public Affairs and External Affairs APAC GSMA.

Menurutnya, ada sejumlah pertanyaan yang harus dipertimbangkan. Apakah konsumen mampu membeli ponsel 5G, apakah mereka benar-benar membutuhkan teknologi ini, dan apakah layanan yang diberikan jauh lebih baik dari 4G.

Harga perangkat menjadi tantangan tersendiri. Gorman menjelaskan biaya perangkat kelas atas meningkat akibat kenaikan biaya chip dan memori global, sementara ponsel 5G masih banyak berada di segmen harga yang lebih tinggi.

Proyeksi 5G di Asia Pasifik dan Posisi Indonesia

Secara regional, GSMA memperkirakan koneksi 5G di Asia Pasifik akan mencapai 1,5 miliar pada 2030, atau sekitar 50 persen dari seluruh koneksi seluler di kawasan. Operator seluler juga diperkirakan menggelontorkan belanja modal lebih dari US$200 miliar sepanjang 2025-2030 untuk pengembangan jaringan.

Tingkat adopsi antarnegara akan berbeda jauh. Pasar maju seperti Korea Selatan dan Jepang diperkirakan memiliki penetrasi 5G di atas 90 persen pada 2030, sedangkan Asia Tenggara berada di kisaran 43 persen.

Bagi Indonesia, perjalanan menuju generasi jaringan berikutnya tidak akan terjadi dalam satu lompatan. GSMA menilai fondasi yang kuat pada 5G justru akan menjadi pijakan yang lebih realistis sebelum melangkah ke 6G.

Reporter: Nurul Huda
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top