MALUKU — BEI, BRIDS, dan IIX melihat momentum pertumbuhan instrumen utang berkelanjutan di Indonesia kian kuat. Dalam forum bertajuk "Indonesia's Trillion-Rupiah Opportunity: Advancing an Inclusive and Resilient Economy through Thematic Bonds" yang digelar di Main Hall BEI, ketiga lembaga ini mempertemukan calon penerbit obligasi dan pelaku pasar modal untuk membahas perluasan pipeline obligasi tematik, dengan Orange Bond sebagai studi kasus utama.
Data BEI menunjukkan tren positif penggalangan dana melalui instrumen utang berkelanjutan. Sejak 2023, kontribusinya telah melampaui 10% dari total nilai perolehan dana instrumen utang di bursa. Angka ini menjadi fondasi untuk mencapai target Rp200 triliun yang tertuang dalam Sustainable Finance Roadmap.
Korporasi Mulai Ambil Peran, Tak Lagi Andalkan Pemerintah
Selama ini pasar obligasi domestik memang didominasi oleh surat utang negara yang mencakup lebih dari 90% total pasar. Namun, tonggak baru terjadi ketika PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menerbitkan Orange Bond dan Orange Sukuk perdana tahun lalu. Transaksi ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan komitmen penerbitan Orange Bond terbesar di dunia sekaligus negara pertama yang menerbitkan Orange Sukuk.
Berbeda dengan penerbitan obligasi tematik sebelumnya yang banyak ditopang pemerintah, transaksi PNM ini menandai peran sektor korporasi yang semakin signifikan. BRIDS sendiri bertindak sebagai Joint Lead Underwriter (JLU) untuk penerbitan tersebut, termasuk juga untuk FIF.
Target Orange Capital USD10 Miliar untuk Pemberdayaan Perempuan
Momentum ini sejalan dengan target nasional menghimpun Orange Capital sebesar USD10 miliar pada 2030, yang disepakati bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Dana tersebut ditujukan untuk memberdayakan 100 juta perempuan, anak perempuan, dan kelompok minoritas gender, khususnya dalam mendukung aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Wakil Direktur Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Listyorini Dian Pratiwi, menegaskan bahwa penerbitan Orange Bond dan Orange Sukuk oleh PNM membuktikan adanya permintaan pasar yang jelas terhadap investasi berfokus gender. "Seiring dengan terus bertumbuhnya basis investor di pasar kami, kami meyakini pasar Indonesia mampu menyerap lebih banyak penawaran instrumen utang berkelanjutan yang inovatif dengan skala lebih besar di masa mendatang," ujarnya dalam keterangan resmi.
Membangun Infrastruktur Pasar Modal Berkelanjutan
Prof. Shahnaz, CEO dan Founder IIX, menyebut Indonesia telah lama menjadi pasar prioritas bagi pihaknya. Selama lebih dari dua dekade, IIX fokus membangun infrastruktur pasar modal yang mampu menyalurkan investasi swasta untuk kesetaraan gender dan ketahanan iklim.
"Penerbitan perdana Orange Bond di Indonesia, yang didorong oleh sektor korporasi, membuktikan bahwa modal tematik dapat bergerak melampaui neraca pemerintah dan masuk ke arus utama pasar," kata Shahnaz. IIX mencatat telah beroperasi di lebih dari 60 negara dan membantu mobilisasi lebih dari USD2 miliar modal swasta.
Obligasi Tematik sebagai Alternatif Pendanaan Korporasi
Bagi emiten, obligasi tematik membuka peluang menghubungkan kebutuhan pendanaan dengan minat investor terhadap investasi berkelanjutan. Plt. Direktur Utama BRIDS, Fifi Virgantria, melihat potensi besar di pasar ini. "Melalui kolaborasi dengan IDX dan IIX, kami berharap semakin banyak perusahaan yang memanfaatkan obligasi tematik sebagai alternatif pendanaan sekaligus mempercepat terbentuknya pipeline penerbit obligasi tematik di Indonesia," jelasnya.
Rangkaian acara roundtable meliputi pemaparan utama dari BEI, sesi pengenalan Orange Bond oleh IIX, serta talk show yang menghadirkan BRIDS, IIX, dan PNM sebagai penerbit perdana. Forum ini diharapkan menjadi langkah awal memperluas partisipasi korporasi dalam pasar obligasi tematik, sejalan dengan posisi Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara.