Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Ambon bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) akan membangun laboratorium Bahasa Jepang sebagai pusat pembelajaran dan sertifikasi bagi calon tenaga kerja sektor kelautan dan perikanan dari kawasan timur Indonesia. Kolaborasi ini ditargetkan berjalan mulai 2026 dengan fokus utama membekali kompetensi bahasa dan keterampilan teknis agar lulusan mampu bersaing di pasar kerja Jepang.
AMBON — Kerja sama BPPP Ambon dengan JICA memasuki tahap perencanaan konkret. Tim ahli JICA telah melakukan kunjungan awal untuk memetakan kebutuhan fasilitas dan tantangan yang ada di balai pelatihan tersebut.
Kepala BPPP Ambon Abubakar mengatakan, proyek kolaborasi ini dijadwalkan berlangsung mulai 2026. Selain pembangunan laboratorium bahasa, program ini juga mencakup penyusunan sistem pendukung bagi calon tenaga kerja hingga penguatan kapasitas pengajar lokal.
JICA tidak hanya akan mendukung pengembangan fasilitas, tetapi juga menyiapkan tenaga ahli untuk mendampingi proses pembelajaran. Salah satu materi yang ditekankan adalah daftar kosakata dasar khusus bidang perikanan.
Menurut Abubakar, penguasaan bahasa percakapan sehari-hari saja tidak cukup. Calon pekerja harus memahami istilah teknis yang digunakan di lingkungan kerja perikanan di Jepang.
"Kerja sama ini bukan hanya untuk meningkatkan keterampilan, tetapi juga menyiapkan SDM agar memiliki kompetensi dan kemampuan bahasa Jepang sehingga mereka memiliki peluang bekerja di Jepang," ujarnya di Ambon, Sabtu.
Untuk memastikan keberlanjutan program, BPPP Ambon telah menunjuk dua instruktur dan dua guru dari SUPM Waiheru. Mereka akan mengikuti pembelajaran Bahasa Jepang hingga November 2026.
Abubakar menjelaskan bahwa para tenaga pendidik ini nantinya diharapkan menjadi pengajar inti yang mampu mendukung proses sertifikasi Bahasa Jepang di kawasan timur Indonesia.
"Mereka yang disiapkan ini nantinya diharapkan dapat menjadi pengajar dan mendukung proses sertifikasi Bahasa Jepang, sehingga kita memiliki SDM lokal yang mampu melanjutkan program ini," kata Abubakar.
Pemilihan BPPP Ambon sebagai lokasi proyek dinilai strategis. Maluku memiliki basis pendidikan dan tenaga kerja kelautan yang besar, sehingga potensi pengiriman tenaga kerja terampil ke luar negeri cukup terbuka.
Penguatan fasilitas di BPPP Ambon akan terus berlanjut hingga 2027 dengan dukungan pemerintah pusat dan kolaborasi berbagai pihak. Targetnya, balai ini menjadi pusat pelatihan kemaritiman yang menghasilkan lulusan dengan sertifikasi diakui secara internasional.
"Kita ingin lulusan dari Maluku tidak hanya siap bekerja di dalam negeri, tetapi juga memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di luar negeri," ujar Abubakar.
Ia menambahkan, seluruh rangkaian program dimulai dari pemetaan kebutuhan agar pelatihan yang dibangun benar-benar sesuai dengan kondisi calon tenaga kerja dan kebutuhan industri di Jepang.