MALUKU — Presiden AS Donald Trump menyebut transaksi ini sebagai salah satu kesepakatan minyak terbesar dalam sejarah. Melalui platform Truth Social, Trump mengatakan Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth telah mencapai kesepakatan dengan pemimpin sementara Venezuela Delcy Rodriguez melalui kemitraan dengan perusahaan swasta.
Trump menyatakan kesepakatan ini akan meningkatkan cadangan minyak AS lebih dari dua kali lipat. Langkah ini juga menjadi jawaban atas kekhawatiran pasokan energi domestik, mengingat cadangan minyak strategis AS berada di level terendah dalam sekitar 40 tahun terakhir.
"Transaksi ini akan sangat memperkuat hubungan yang sudah berkembang antara Venezuela dan Amerika Serikat," tulis Trump, melansir AFP.
Bagi warga Venezuela, Rubio menegaskan investasi tersebut akan mendorong pemulihan ekonomi dan membuka ribuan lapangan kerja bergaji tinggi. "Untuk rakyat Venezuela, kesepakatan ini akan membawa hampir US$100 miliar investasi swasta, mendukung ribuan lapangan kerja bergaji tinggi, dan mendorong pembangunan kembali ekonomi Venezuela," tulis Rubio melalui X.
Venezuela telah mengonfirmasi penandatanganan perjanjian minyak dengan AS. Delcy Rodriguez menyebut kesepakatan ini akan berdampak signifikan terhadap kebangkitan bangsa.
"Perjanjian bersejarah ini akan mempunyai dampak yang signifikan terhadap kebangkitan bangsa kita," tulis Rodriguez di media sosial.
Sebelumnya, Axios melaporkan negosiasi mencakup pengembangan sekitar 12 ladang minyak produktif dengan total cadangan terbukti 90 miliar barel, atau sepertiga dari total cadangan Venezuela yang mencapai 300 miliar barel. Dalam skema tersebut, perusahaan swasta termasuk asal AS akan mengembangkan ladang, dengan imbalan kepemilikan saham bagi AS sementara Venezuela memperoleh bagian pendapatan lebih besar.
Pemerintahan Trump sebelumnya mendorong perusahaan AS kembali berinvestasi di Venezuela. Namun, sejumlah perusahaan masih berhati-hati karena infrastruktur minyak Venezuela yang rusak dan rekam jejak Caracas dalam mengambil alih aset investor asing.
Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di Venezuela sejak pemerintahan Nicolas Maduro digulingkan pada Januari. Produksi minyak mentah Chevron di Venezuela telah mencapai 280 ribu barel per hari, dengan target peningkatan 50 persen hingga akhir 2028.
Kesepakatan ini muncul di tengah gangguan pasokan minyak global akibat perang AS dengan Iran, yang membuat harga energi menjadi perhatian utama pemerintah AS. Trump menilai kesepakatan ini akan membantu menurunkan harga bensin bagi masyarakat AS melalui pasokan minyak yang stabil dan berbiaya rendah di kawasan Amerika.
Rincian struktur kepemilikan maupun nilai investasi dalam kesepakatan tersebut belum dijelaskan lebih lanjut.