MALUKU — Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengungkapkan kasus seorang remaja bernama Al Jabbar yang ditemukan di Duren Sawit, Jakarta Timur. Remaja berusia 15 tahun itu mengaku belum pernah bersekolah seumur hidupnya.
"Nama saya Al Jabbar, usia 15 tahun, tinggal di Duren Sawit. Tapi saya belum pernah sekolah," kata Gus Ipul menirukan pengakuan anak tersebut saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto di SRMP 17 Tabanan, Bali, Minggu (7/6).
Bukan Kasus Tunggal, Banyak Anak Tak Terjangkau Sistem
Gus Ipul menegaskan kasus Al Jabbar bukanlah satu-satunya. Dalam proses penjangkauan calon siswa Sekolah Rakyat di berbagai daerah, pemerintah menemukan anak-anak yang belum pernah sekolah, putus sekolah, maupun yang berisiko putus sekolah.
"Banyak sekali yang seperti ini," ujarnya.
Mensos menyebut kelompok ini sebagai bagian dari masyarakat yang selama ini tidak terlihat dalam sistem layanan publik. Mereka luput dari data pemerintah dan tidak tersentuh program pendidikan reguler.
Sekolah Rakyat Dirancang untuk Menjangkau yang Terlupakan
Program Sekolah Rakyat diarahkan untuk menjangkau kelompok yang selama ini tertinggal dari akses pendidikan. Pemerintah ingin memastikan anak-anak seperti Al Jabbar mendapatkan hak belajarnya.
Gus Ipul menyampaikan temuan ini saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan. Kehadiran orang nomor satu di lokasi itu menunjukkan perhatian serius pemerintah terhadap isu anak tidak sekolah.
Menurut data Kementerian Sosial, masih banyak anak usia sekolah yang belum tercatat dalam sistem pendidikan nasional. Mereka umumnya berasal dari keluarga miskin ekstrem atau tinggal di daerah terpencil yang minim akses.
Penjangkauan Jadi Tantangan Utama
Proses identifikasi calon siswa Sekolah Rakyat menjadi langkah awal yang krusial. Petugas di lapangan harus mencari anak-anak yang benar-benar tidak terdata oleh sistem, bukan sekadar yang sudah tercatat sebagai putus sekolah.
Kasus Al Jabbar di Duren Sawit menunjukkan bahwa persoalan ini tidak hanya terjadi di daerah terpencil, tapi juga di ibu kota. Jakarta Timur, tempat tinggal Al Jabbar, merupakan wilayah perkotaan dengan infrastruktur pendidikan yang relatif lengkap.
Pemerintah belum merinci jumlah pasti anak yang belum pernah sekolah di seluruh Indonesia. Namun, temuan di lapangan selama proses penjangkauan Sekolah Rakyat akan menjadi basis data awal untuk intervensi lebih lanjut.
Gus Ipul berharap program ini bisa menjadi solusi bagi anak-anak yang selama ini tidak tersentuh layanan pendidikan. Sekolah Rakyat dirancang tidak hanya mengajar baca-tulis-hitung, tetapi juga membekali keterampilan hidup dan karakter.