Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 51 poin atau 0,29 persen ke level Rp17.628 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat ini. Penguatan ini dipicu pernyataan "dovish" pejabat Federal Reserve (The Fed) yang melemahkan mata uang Paman Sam di pasar global.
JAKARTA — Pergerakan rupiah yang menghijau di awal sesi perdagangan hari ini menjadi kabar baik bagi pelaku usaha di Maluku yang bergantung pada barang impor. Transaksi jual-beli valuta asing di bank-bank daerah diperkirakan langsung merespons level terbaru ini setelah sebelumnya ditutup di posisi Rp17.679 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, mengatakan sentimen positif datang dari sikap pejabat The Fed, Christopher Waller, yang melihat tanda-tanda disinflasi menjanjikan di perekonomian AS.
Prospek Suku Bunga AS dan Dampaknya pada Rupiah
Pernyataan Waller mengindikasikan potensi dukungan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada tingkat saat ini dalam pertemuan The Fed berikutnya. Sikap ini memicu pedagang obligasi menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga September menjadi sekadar peluang seimbang (50-50).
Angka tersebut turun cukup tajam dari kemungkinan 63 persen yang diperhitungkan pasar hanya sehari sebelumnya.
“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS menyusul pernyataan dovish dari pejabat The Fed Christopher Waller yang melemahkan dolar AS dan menurunkan prospek kenaikan suku bunga oleh The Fed pada bulan September,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Yang Bakal Terasa di Maluku: Harga Barang Impor dan Bahan Pokok
Bagi pengusaha di Ambon dan sekitarnya, penguatan tipis ini tetap berarti. Setiap pergerakan kurs berdampak pada biaya pengadaan alat berat, sparepart kendaraan, hingga bahan baku industri yang selama ini dipesan dari luar negeri.
Tekanan inflasi di Maluku yang kerap dipicu harga pangan dan transportasi bisa sedikit teredam jika penguatan rupiah berlanjut hingga penutupan pasar.
Proyeksi Pergerakan Rupiah hingga Jumat Sore
Lukman Leong memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar sepanjang hari ini, yakni berkisar Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.
“Waller mensinyalkan untuk tidak menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi masih terus mereda. Ekspektasi untuk kenaikan suku bunga pada bulan September turun dari 63 persen menjadi 50 persen,” kata Lukman.
Para pelaku pasar di daerah diimbau mencermati pergerakan kurs menjelang akhir pekan, terutama untuk kebutuhan pembayaran transaksi impor yang jatuh tempo awal pekan depan.