IHSG Menguat ke 6.448 di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Pelaku Pasar Tunggu Suku Bunga BI

Penulis: Mustofa Kamal  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 13:33:01 WIB
IHSG dibuka menguat ke level 6.448 pada perdagangan Selasa, ditopang sentimen positif dari pidato kenegaraan pemerintah.

JAKARTA — Setelah ditutup menguat 1,59 persen pada perdagangan Jumat lalu, IHSG kembali mencatatkan penguatan pada pembukaan Selasa. Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 ikut naik 2,83 poin atau 0,45 persen ke posisi 635,11.

Sentimen positif dari dalam negeri masih menjadi penopang utama. Pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027, lebih tinggi dari target APBN 2026 sebesar 5,4 persen, menjadi katalis yang disambut pasar.

Target Investasi Rp 2.322 Triliun dan Sinyal Fiskal Jadi Pendorong

Pemerintah juga menargetkan realisasi investasi Rp 2.322 triliun pada 2027, naik dari target tahun sebelumnya yang sebesar Rp 2.041,3 triliun. Target disiplin fiskal yang ditegaskan dalam pengantar RUU APBN 2027 turut memperkuat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai penguatan IHSG masih berpeluang berlanjut selama indeks mampu bertahan di atas level 6.377. Jika bertahan, penguatan berpotensi menuju 6.454, kemudian resistance berikutnya di kisaran 6.500-6.600.

"Sebaliknya, apabila terjadi koreksi dan IHSG gagal mempertahankan area 6.377, indeks berpotensi menguji level 6.324, dengan support berikutnya di 6.275-6.266," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta.

Fokus Pekan Ini: Rapat Dewan Gubernur BI dan Risalah FOMC

Sepanjang pekan ini, pelaku pasar akan mengarahkan perhatian pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. Keputusan suku bunga acuan serta laporan likuiditas dan pertumbuhan kredit domestik akan menjadi sinyal penting bagi arah pasar.

Selain itu, data utang luar negeri, uang beredar (M2), dan neraca pembayaran akan dicermati sebagai gambaran ketahanan ekonomi Indonesia terhadap tekanan eksternal.

Dari sisi global, perhatian tertuju pada risalah Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed periode Juli 2026. Data inflasi AS yang moderat serta tenaga kerja dan penjualan ritel yang relatif lemah membuat pasar menilai The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan September mendatang.

Probabilitas suku bunga tetap berada di sekitar 67 persen, sementara peluang kenaikan 25 basis poin turun menjadi sekitar 33 persen. "Risalah FOMC Juli akan menjadi perhatian utama untuk melihat arah kebijakan moneter berikutnya," tambah Liza.

Ketegangan AS-Iran dan Harga Minyak Bayangi Pasar Global

Dari mancanegara, sentimen pasar cenderung negatif akibat kenaikan kembali harga minyak mentah. Konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian setelah gencatan senjata 60 hari berakhir tanpa kesepakatan damai, sementara AS dan Iran masih berselisih mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.

Kondisi ini menjaga risiko gangguan pasokan energi tetap tinggi dan menjadi faktor yang membatasi penguatan bursa global. Bursa saham Eropa dan Wall Street kompak melemah pada Senin (17/08), diikuti mayoritas bursa Asia pada perdagangan pagi ini.

Reporter: Mustofa Kamal
Sumber: ambon.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top