AMBON — Operasi pencarian nelayan yang hilang terseret ombak di perairan Desa Hutumuri resmi ditutup. Komandan Tim Operasi SAR, Renhard Lopies, mengatakan keputusan ini diambil setelah upaya maksimal dilakukan sejak korban dilaporkan hilang pada Senin (17/8/2026) pekan lalu.
"Upaya pencarian korban yang dilaksanakan hingga sore hari melalui udara, permukaan air, bawah air, dan pesisir pantai belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan korban," kata Renhard dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).
Arien Maspaitella dilaporkan hilang setelah perahu yang ditumpanginya bersama dua rekannya dihantam gelombang tinggi. Insiden bermula saat ketiganya melaut menjaring ikan di pesisir perairan Desa Hutumuri pada Senin (17/8/2026) sekitar pukul 16.30 WIT.
Sekitar pukul 19.00 WIT, gelombang tinggi menghantam perahu mereka. Dua rekan korban berhasil menyelamatkan diri ke pesisir, sementara Arien terseret arus dan hilang dari pandangan.
Upaya pencarian yang berlangsung selama tujuh hari melibatkan personel gabungan dari Basarnas Ambon, Kodaeral IX, Polairud Polda Maluku, Polsek Leitimur Selatan, BPBD Kota Ambon, serta masyarakat Negeri Rutong. Empat Search and Rescue Unit (SRU) dikerahkan untuk menyisir perairan Desa Rutong hingga Hutumuri.
Armada yang digunakan cukup lengkap, mulai dari Rubber Boat Basarnas, Rubber Boat Polairud, Searider Kodaeral IX, peralatan selam, hingga Drone Thermal untuk pencarian udara. Masyarakat setempat juga sempat melakukan pencarian mandiri sebelum insiden ini dilaporkan ke Basarnas, namun hasilnya nihil.
Meski operasi resmi ditutup dan personel dikembalikan ke satuan masing-masing, Basarnas memastikan pemantauan tetap dilakukan. Jika di kemudian hari ditemukan tanda-tanda atau petunjuk keberadaan korban, operasi SAR akan segera dibuka kembali.
Keputusan penghentian ini menjadi babak akhir dari upaya panjang yang telah dilakukan. Keluarga korban diharapkan tetap mendapat pendampingan dari pemerintah desa setempat pasca-operasi ini.