MALUKU — Perubahan iklim tidak hanya memicu kekeringan berkepanjangan di berbagai wilayah. Bagi ibu hamil, kondisi ini bisa membawa risiko kesehatan yang serius bagi janin.
Penelitian internasional yang digelar Saint Pau Research Institute (IR Sant Pau) bersama Center of Data and Knowledge Integration for Health (CIDACS) di Brasil ini mengamati dampak kekeringan terhadap proses kehamilan.
Hasilnya, paparan kekeringan selama kehamilan meningkatkan risiko kelahiran bayi prematur. Artinya, bayi lahir sebelum usia kehamilan genap 37 minggu.
Berapa Besar Risiko yang Mengintai?
Risiko kelahiran prematur naik sekitar 2 persen pada periode yang dianalisis. Namun angka ini membengkak seiring dengan intensitas kekeringan.
Jika paparan kekeringan berlangsung selama enam bulan, risiko kelahiran prematur meningkat 1 persen pada kekeringan sedang. Angkanya melonjak hingga 5 persen saat kekeringan berada di tingkat ekstrem.
Masa pertengahan hingga akhir kehamilan menjadi waktu yang paling rentan terhadap dampak kekeringan.
Benarkah Cuaca Panas Bisa Memicu Keguguran?
Kabar kurang menyenangkan juga datang dari penelitian lain. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Epidemiology dan dikutip dari laman resmi Boston University menemukan fakta yang perlu diwaspadai.
Ibu hamil di Amerika Utara disebut memiliki risiko keguguran dini 44 persen lebih tinggi pada bulan-bulan musim panas. Risiko ini terutama meningkat pada akhir Agustus hingga awal September.
Siapa yang Paling Rentan Terdampak?
Tidak semua ibu hamil mengalami dampak yang sama besarnya. Kondisi sosial ekonomi seseorang ternyata memegang peranan penting.
"Peristiwa iklim tidak memengaruhi semua orang secara sama. Kondisi sosial sebagian besar menentukan kemampuan masyarakat untuk melindungi diri dari kekurangan pangan dan air, menjaga gizi yang memadai, atau mengakses perawatan prenatal," tegas Dr. Aline Rocha, peneliti di SalutData Lab.
Ibu dengan sumber daya terbatas akan lebih kesulitan menghadapi kenaikan harga pangan, kekurangan air bersih, hingga keterbatasan akses pemeriksaan kehamilan. Gizi yang kurang dan jarangnya kontrol ke dokter pun membuat mereka lebih rentan.
Apa Saja Risiko pada Bayi yang Perlu Diwaspadai?
Para peneliti menemukan tiga dampak yang paling merugikan akibat kekeringan saat kehamilan ini.
Pertama, kelahiran sebelum usia kehamilan 37 minggu. Kedua, berat badan lahir rendah meski bayi lahir cukup bulan.
Ketiga, ukuran tubuh bayi lebih kecil dibandingkan bayi lain dengan usia kehamilan yang sama.
Cara Melindungi Diri Saat Cuaca Panas Ekstrem
Menghadapi cuaca panas ekstrem memang tidak mudah, tapi ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko pada kehamilan Bunda.
Perbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi. Konsumsi buah-buahan segar yang mengandung banyak air juga membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi.
Sebaiknya hindari aktivitas di luar ruangan saat matahari berada di titik teriknya. Gunakan pakaian yang longgar dan berbahan menyerap keringat agar tubuh tidak cepat kepanasan.
Jika Bunda merasa tidak nyaman atau mengalami gejala seperti pusing, mual berlebihan, atau kontraksi, segera periksakan diri ke tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.