MALUKU — Gempa dengan magnitudo terbesar dalam rentetan susulan itu, M4,3, terjadi pukul 12.33 WIB. Pusat gempanya berada 87 kilometer timur laut Ruteng, Manggarai, NTT, dengan kedalaman dangkal 12 kilometer. Aktivitas seismik ini berlangsung pada Minggu (16/8/2026) pukul 12.00 hingga 13.00 WIB.
Daftar Susulan Terkini dan Lokasi Terdampak
BMKG melalui kanal resmi di platform X, @infoBMKG, merilis data detail guncangan yang terekam. Setidaknya dua gempa berkekuatan signifikan terjadi pada menit-menit akhir periode pengamatan tersebut.
- Gempa M3,4 terekam pada pukul 13.00.42 WIB, berlokasi 61 kilometer timur laut Waingapu dengan kedalaman 10 kilometer.
- Gempa M3,2 menyusul pada pukul 12.59.19 WIB, berpusat 73 kilometer timur laut Ruteng dengan kedalaman 0 kilometer atau sangat dangkal.
Meski kekuatan susulan jauh lebih kecil dibanding gempa utama, kedalaman dangkal tetap berpotensi memicu guncangan terasa di permukaan. Masyarakat di pesisir utara Pulau Flores dan sebagian Sumba diimbau waspada terhadap potensi kerusakan bangunan yang sudah retak akibat gempa besar sebelumnya.
Intensitas Guncangan dan Imbauan Kewaspadaan
Data yang dirilis BMKG menunjukkan pola penurunan magnitudo yang tidak beraturan, mengindikasikan energi di bawah permukaan masih dalam proses penyesuaian. Gempa utama M7,7 yang terjadi pada Minggu pagi (15/8/2026) tersebut telah menyebabkan korban jiwa mencapai 47 orang dan memicu kerusakan infrastruktur di sejumlah kabupaten.
Kepala BMKG dalam keterangan resmi sebelumnya menegaskan bahwa aktivitas susulan adalah fenomena normal pascagempa besar. Namun, pihaknya mengingatkan warga untuk menjauhi bangunan yang telah retak atau rusak berat karena berisiko ambruk saat terjadi guncangan susulan.
"Kami terus memantau perkembangan aktivitas seismik di NTT. Masyarakat diminta tetap tenang namun waspada, dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan," demikian pernyataan resmi yang disampaikan melalui akun @infoBMKG.
Koordinasi Penanganan Darurat di Lokasi Bencana
Di sisi lain, proses evakuasi dan pendataan korban masih berlangsung di lokasi terdampak. Tim gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri dikerahkan untuk menjangkau daerah terisolir yang akses jalannya terputus akibat longsor.
Guncangan susulan yang terus terjadi menyulitkan proses evakuasi, terutama bagi tim penyelamat yang bekerja di reruntuhan bangunan. BMKG merekomendasikan agar posko pengungsian sementara dibangun di area terbuka yang jauh dari lereng curam dan tebing.
Masyarakat pesisir juga diingatkan bahwa meskipun gempa susulan tidak berpotensi tsunami karena kekuatannya relatif kecil, mekanisme evakuasi mandiri tetap harus dipahami. Data terbaru dari pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi menunjukkan pergeseran tanah masih terjadi di beberapa titik sepanjang Sesar Flores.