MALUKU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney mencapai kesepakatan di menit-menit akhir, membatalkan rencana penerapan tarif 50 persen untuk berbagai produk Kanada yang dijadwalkan berlaku esok pagi. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menegaskan tarif tersebut ditunda karena kedua negara telah mencapai kata sepakat, dengan catatan penyelesaian dokumen masih berlangsung.
"Saya telah menunda tarif 50 persen terhadap Kanada, yang dijadwalkan mulai berlaku besok pagi, karena Kanada dan AS—dengan catatan penyelesaian dokumen—telah mencapai KESEPAKATAN!" tulis Trump, dikutip CNN.
Produk Terdampak dan Dasar Hukum yang Langka
Tarif yang batal diberlakukan ini menyasar produk susu, minuman beralkohol, furnitur, hingga peralatan industri dan plastik. Nilai barang yang terkena ancaman bea masuk itu setara 5 persen dari total impor AS dari Kanada sepanjang tahun lalu.
Yang menarik, rencana tarif ini menggunakan Pasal 338, undang-undang perdagangan era 1930-an yang belum pernah dipakai untuk menerapkan bea masuk dengan cara serupa. Berbeda dengan kebijakan tarif menyeluruh yang sempat dibatalkan Mahkamah Agung awal tahun ini, Pasal 338 tidak mengatur batas waktu pemberlakuan bea masuk. Artinya, jika tarif jadi dieksekusi, kebijakan itu bisa bertahan tanpa batas waktu kecuali dicabut presiden yang berkuasa.
Tak Ada Pengecualian USMCA, Juru Kunci Negosiasi
Keistimewaan lain dari kebijakan ini adalah tidak adanya pengecualian bagi barang-barang yang memenuhi ketentuan Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCA). Produk yang seharusnya mendapat perlakuan istimewa berdasarkan pakta perdagangan Amerika Utara pun bakal terkena bea masuk jika kebijakan itu jadi diterapkan.
Trump menargetkan Kanada dengan tuduhan negara tersebut mempersulit ekspor produk susu, mobil, dan minuman beralkohol AS. Kanada menjadi satu-satunya negara selain China yang membalas kebijakan tarif Trump sebelumnya, meski Carney kemudian mencabut sebagian besar langkah balasan tersebut.
Keystone XL dan Agenda Peninjauan USMCA
Dalam pengumumannya, Trump menyinggung proyek pipa Keystone XL yang "mungkin akan dibangkitkan kembali dari kubur!", tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Isyarat ini menjadi sinyal bahwa sektor energi tetap menjadi variabel penting dalam dinamika negosiasi dagang kedua negara.
Kesepakatan ini datang di tengah tekanan ekonomi yang dialami Kanada akibat putaran tarif sebelumnya. Ottawa aktif berkomunikasi dengan pejabat AS untuk menyelesaikan sengketa perdagangan yang lebih luas. Dengan adanya agenda peninjauan ulang terhadap USMCA itu sendiri, Trump dinilai masih memegang satu lagi instrumen daya tawar yang kuat terhadap Ottawa.