MALUKU — Keberhasilan pengeboran sumur minyak di kawasan timur Indonesia kembali mencatatkan hasil menggembirakan. Sumur Salawati (SLW)-F003 yang dikelola PT Pertamina EP Asset 4 Region 4 Zone 14 berhasil memproduksikan minyak jauh di atas perkiraan awal, menegaskan potensi besar blok migas yang masih tersimpan di wilayah Papua.
Produksi Melonjak, Target Terlampaui
Sumur yang berlokasi di Sorong, Papua Barat Daya ini mencatatkan produksi minyak yang signifikan. Aliran minyak dari sumur SLW-F003 tercatat melampaui target yang ditetapkan hingga 30 persen, sebuah hasil yang jarang terjadi dalam operasional pengeboran pengembangan.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyampaikan apresiasi atas kinerja lapangan ini. Menurutnya, hasil positif tersebut tidak lepas dari perencanaan yang matang serta eksekusi teknis yang baik di lapangan oleh tim Pertamina EP.
Pertimbangan Efisiensi dan Keekonomian
Keberhasilan ini menjadi perhatian khusus karena sumur SLW-F003 awalnya direncanakan dengan skenario keekonomian yang ketat. Realisasi produksi yang jauh melampaui target secara langsung meningkatkan nilai keekonomian proyek dan mempercepat pengembalian investasi.
Pencapaian ini juga membuktikan bahwa pengelolaan lapangan tua (mature field) dengan teknologi tepat guna masih mampu memberikan kontribusi nyata terhadap target produksi nasional yang dicanangkan pemerintah, yakni 1 juta barel minyak dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari.
Dukungan untuk Target Nasional
Keberhasilan pengeboran SLW-F003 diharapkan dapat direplikasi pada sumur-sumur pengembangan berikutnya di wilayah kerja Pertamina EP Asset 4. Keberadaan sumur ini menambah daftar panjang aset produksi yang menopang kinerja holding subholding upstream Pertamina.
Dengan tambahan pasokan dari sumur baru ini, SKK Migas optimistis tren positif produksi minyak bumi dari regional Indonesia Timur akan terus berlanjut. Peningkatan produksi ini pada akhirnya berkontribusi pada ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah.