MALUKU — Proyeksi ini muncul saat industri smartphone global tengah bergejolak. Counterpoint memperkirakan pengiriman smartphone global pada 2026 akan turun 14,3 persen, dengan merek asal China berpotensi anjlok hingga 34 persen akibat lesunya permintaan di segmen pasar yang sensitif terhadap harga.
Modal Utama Samsung: Komponen Sendiri dan Distribusi Luas
Yang Wang, analis utama Counterpoint, menilai kembalinya Samsung ke posisi teratas didorong oleh kemampuan perusahaan menyediakan komponen internalnya sendiri. Portofolio produk yang luas serta hubungan yang mapan dengan operator dan pengecer juga menjadi faktor kunci.
"Kembalinya Samsung ke posisi teratas dipengaruhi oleh kemampuan (mereka menyediakan) komponen internalnya (sendiri), portofolio yang luas, dan hubungan yang mapan dengan operator dan pengecer," kata Yang Wang kepada Bloomberg.
Berbeda dengan Samsung, produsen ponsel pintar terkemuka China diperkirakan akan mengalami tekanan pengiriman yang jauh lebih besar. Counterpoint menyebut konsolidasi industri yang semakin cepat terus menjadi skenario dasar selama siklus penurunan ini.
Krisis Chip Memori: Harga Naik, Segmen Entry-Level Paling Terpukul
Akar masalahnya bukan sekadar permintaan yang lesu. Perusahaan semikonduktor dunia kini lebih memprioritaskan kebutuhan data center berbasis kecerdasan buatan (AI), sehingga pasokan untuk industri elektronik konsumen menjadi lebih terbatas. Imbasnya, harga komponen terus meningkat dan produsen smartphone terpaksa meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen.
Kenaikan harga paling terasa pada smartphone kelas entry-level hingga menengah, segmen yang selama ini menjadi penopang terbesar penjualan global. Kondisi ini diperkirakan belum akan membaik dalam waktu dekat—kelangkaan chip memori diprediksi masih berlanjut hingga 2027.
Strategi Bertahan Produsen China: Fokus ke Segmen Premium
Menghadapi tekanan biaya produksi, sejumlah merek China mulai mengubah strategi. OnePlus dikabarkan menghentikan peluncuran produk terbaru di pasar Amerika Utara hingga Eropa. Sementara itu, Xiaomi, vivo, dan HONOR menata ulang portofolio mereka dengan fokus membuat dan menjual model HP segmen premium.
Langkah ini dianggap mampu menutup ongkos produksi komponen HP yang kian meroket. Namun, konsekuensinya, persaingan di segmen entry-level yang selama ini menjadi ladang penjualan terbesar justru semakin sepi pasokan.
Dampak ke Konsumen Indonesia
Bagi pengguna di Indonesia, tren ini berarti harga smartphone—terutama kelas menengah ke bawah—berpotensi terus merangkak naik sepanjang 2026. Produsen yang memiliki kendali penuh atas rantai pasok, seperti Samsung, punya ruang napas lebih besar untuk menahan gejolak harga dibandingkan merek yang sangat bergantung pada pemasok eksternal.
Keputusan pembelian yang cerdas dalam dua tahun ke depan bukan hanya soal spesifikasi, tetapi juga mempertimbangkan siapa produsen yang paling mampu menjaga kestabilan pasokan dan harga di tengah badai krisis chip global.