MALUKU — Millwall dan West Ham bertemu untuk pertama kalinya dalam 14 tahun pada laga Championship di The Den, markas Millwall. Polisi Metropolitan mendapat kewenangan khusus untuk mencegah kekerasan, mengingat sejarah panjang bentrokan antarfans kedua klub asal London itu.
Pertemuan Millwall dan West Ham di Championship akhir pekan ini menjadi laga pertama kedua tim sejak 2012. Duel di The Den itu berlangsung di tengah pengamanan ketat, dengan polisi Metropolitan diberi kewenangan khusus menangani potensi kerusuhan.
West Ham datang ke kandang Millwall sebagai pemuncak klasemen usai menang 6-0 atas Wrexham. Millwall, yang dilatih Alex Neil, saat ini berada di peringkat ke-10 setelah start yang tidak konsisten dan masih dibebani sejumlah cedera pemain.
Laga ke-100 dengan Sejarah Panjang Kerusuhan
Jika turnamen kecil yang sudah dihentikan ikut dihitung, ini akan menjadi pertemuan kompetitif ke-100 antara kedua klub. Rivalitas mereka bukan soal prestasi di lapangan, melainkan akar tribalisme yang mengeras sejak era 1970-an dan 1980-an.
Kerusuhan terburuk terjadi pada Agustus 2009 di Upton Park, markas lama West Ham, dalam laga putaran kedua Piala Liga. Seorang pria berusia 44 tahun ditikam di dada saat kerusuhan pecah di luar stadion, sementara polisi antihuru-hara kesulitan menjaga ketertiban di dalam.
Pertandingan sempat dihentikan sementara setelah suporter tuan rumah menyerbu lapangan menyusul salah satu gol West Ham. Sebelumnya, pada Maret 2004, kuda polisi dikerahkan ke lapangan ketika fans West Ham mengamuk dan merobek kursi tribun dalam kekalahan 4-1 di The Den.
Korban Jiwa dan Akar Rivalitas dari Galangan Kapal
Rivalitas ini juga meninggalkan korban jiwa. Seorang suporter Millwall, Ian Pratt, meninggal setelah bentrok dengan fans West Ham di Stasiun New Cross pada 1976. Insiden itu menjadi pengingat kelam yang sering terlupakan ketika laga ini coba dibesar-besarkan.
Akar permusuhan kedua klub bermula dari persaingan perusahaan galangan kapal di kawasan Isle of Dogs, London timur, tempat keduanya dibentuk. Kedua kubu sebenarnya tidak bertetangga langsung, dan bagi Millwall, Crystal Palace serta Charlton lebih pantas disebut musuh terdekat.
Keamanan Ketat dan Tiket Terbatas untuk Fans Tamu
West Ham hanya mendapat 1.774 tiket untuk laga di The Den. Polisi Metropolitan menyiapkan sejumlah langkah untuk memisahkan suporter kedua kubu, termasuk jalur khusus yang menghubungkan Stasiun South Bermondsey ke tribun tamu sebagai jalur pendingin ketegangan.
Secara statistik, West Ham lebih diunggulkan. Mereka menang di Upton Park saat terakhir bertemu pada Februari 2012, bangkit dari kartu merah Kevin Nolan di awal laga. Namun di kandang Millwall, West Ham selalu kesulitan.
Millwall tidak terkalahkan dalam lima laga kandang terakhir melawan West Ham sejak kalah pada 1988. The Den yang sempit dan mencekam menjadi faktor yang membuat laga tandang ini terasa berbeda bagi West Ham, bahkan dibanding lawatan ke Stamford Bridge atau markas Tottenham.
Jarang Bertemu, Ketegangan Tetap Tinggi
Sejak Perang Dunia II, kedua tim hanya bertemu 18 kali di liga. Satu-satunya musim ketika mereka sama-sama berada di kasta tertinggi adalah 1988-89, ketika Millwall bertahan dan West Ham terdegradasi.
Logika memang menempatkan West Ham sebagai favorit. Tapi dalam laga seperti ini, logika sering kali tidak berlaku begitu bola mulai bergulir.