MALUKU — Ribuan warga menyemut di sepanjang rute pawai yang membentang dari Lapangan Cindua Mato hingga kembali ke titik start. Di tengah kemeriahan itu, penampilan barisan marching band siswa SDN 16 Baringin berhasil menyedot perhatian, terutama saat melintas di depan panggung utama di Pasar Batusangkar.
Kepala SDN 16 Baringin, Wiswi Ayu Sysfni, mengatakan persiapan penampilan khusus ini sudah dilakukan jauh hari. Ia menyebut marching band menjadi daya tarik utama keikutsertaan sekolahnya di ajang tahunan tersebut.
Atraksi yang Memukau di Panggung Utama
"Kita juga menampilkan marching band di bawah naungan PIC DB Gita Pesona Nada, Indah Septia Putri, dengan atraksi yang memukau di hadapan panggung utama," ujar Wiswi Ayu Sysfni.
Permainan musik dan kekompakan barisan para siswa mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan peserta pawai lain. Momen ini sekaligus menjadi ajang unjuk kreativitas yang melibatkan kolaborasi penuh antara guru, murid, dan orang tua.
Lebih dari Sekadar Meriahkan Kemerdekaan
Wiswi menegaskan partisipasi dalam pawai alegoris bukan sekadar seremonial. Pihak sekolah memaknai kegiatan ini sebagai sarana pendidikan karakter bagi siswa.
"Keikutsertaan SDN 16 Baringin dalam pawai alegoris tidak hanya bertujuan memeriahkan peringatan kemerdekaan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan bagi siswa," tambahnya.
Melalui kegiatan ini, siswa diajak mengenal keberagaman budaya Indonesia, menumbuhkan rasa cinta tanah air, serta belajar membangun kekompakan dan disiplin dalam sebuah kelompok. Nilai-nilai perjuangan dan persatuan pun diharapkan tertanam lewat pengalaman langsung di lapangan.
Apresiasi untuk Siswa dan Orang Tua
Indah Septia Putri, PIC DB Gita Pesona Nada, menyampaikan rasa terima kasihnya atas dukungan penuh yang diberikan. Ia menyebut peran orang tua menjadi kunci semangat para siswa saat tampil.
"Alhamdulillah, penampilan anak-anak di pawai alegoris berjalan dengan lancar, sukses dan sangat memukau. Dan juga terimakasih kepada ayah bunda, kehadiran ayah bunda adalah kunci semangat anak-anak di lapangan," ungkapnya.
Rute pawai kali ini menempuh jarak cukup panjang, melewati Pasar Batusangkar, Ponco, Jati, hingga Kampung Teleng sebelum kembali finis di Lapangan Cindua Mato. Semangat para siswa yang bertahan hingga akhir rute menjadi bukti bahwa perayaan kemerdekaan bisa menjadi momentum edukatif yang menyenangkan bagi generasi muda.