Pencarian

IHSG Menguat 0,83 Persen ke 6.447,25, Analis Ingatkan Peluang Koreksi jika Gagal Tembus 6.500

Kamis, 20 Agustus 2026 • 22:07:01 WIB
IHSG Menguat 0,83 Persen ke 6.447,25, Analis Ingatkan Peluang Koreksi jika Gagal Tembus 6.500
IHSG ditutup menguat 0,83 persen ke level 6.447,25 pada perdagangan hari ini.

JAKARTA — Langkah Departemen Keuangan AS yang menaikkan nominal buyback obligasi jangka panjang menjadi sedikitnya 4 miliar dolar AS per operasi mulai 9 September 2026 berhasil meredakan tekanan di pasar obligasi dan menopang ekuitas global. Kebijakan ini langsung direspons positif oleh pelaku pasar di kawasan Asia, termasuk Indonesia, yang mendorong IHSG ke zona hijau pada pembukaan perdagangan hari ini.

Penguatan indeks juga ditopang oleh keputusan Bank Indonesia yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18-19 Agustus 2026. Keputusan tersebut dinilai sesuai dengan konsensus pasar dan menjaga stabilitas makroekonomi, tercermin dari posisi cadangan devisa yang solid di angka 145,3 miliar dolar AS.

Level Kritis yang Perlu Dicermati Investor

Liza Camelia Suryanata menjelaskan, pergerakan IHSG saat ini berada di titik penting. Jika indeks gagal kembali menembus area 6.490-6.500, potensi pullback menuju 6.377-6.355 masih terbuka lebar. Support berikutnya berada di kisaran 6.294-6.286.

Sebaliknya, penembusan solid di atas level 6.500 akan membuka ruang penguatan lebih lanjut menuju area 6.723. "Selama area support mampu dipertahankan, peluang IHSG untuk kembali menguji resistance 6.490-6.500 masih terbuka," ujarnya dalam kajian di Jakarta, Kamis.

Ketegangan Global dan Risiko Inflasi AS

Di sisi lain, risiko eksternal masih membayangi. Ketegangan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz belum menemui titik terang. Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan kendali penuh atas jalur pelayaran tersebut, sementara Iran menuntut penghentian permusuhan dan pencairan aset sebagai syarat pembukaan kembali selat.

Situasi ini membuat risiko gangguan terhadap jalur perdagangan energi global tetap tinggi. Selain itu, risalah rapat The Fed Juli 2026 menunjukkan mayoritas pejabat mendukung status quo suku bunga, namun banyak peserta menilai kenaikan suku bunga masih diperlukan apabila inflasi tidak kunjung turun. Tiga presiden The Fed regional bahkan menyatakan dissent terhadap keputusan mempertahankan suku bunga.

Kebijakan BBM Bersubsidi Berpotensi Tekan Daya Beli

Dari dalam negeri, pemerintah berencana memangkas kuota BBM tertentu bersubsidi pada 2027 menjadi 20,09 juta kiloliter. Angka ini turun signifikan 58,5 persen atau sekitar 28,34 juta KL dari kuota 48,43 juta KL pada 2026. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pengendalian subsidi energi, termasuk Pertalite, dengan asumsi harga ICP 2027 sebesar 75 dolar AS per barel.

Menurut Liza, pemangkasan kuota ini berpotensi memperketat akses masyarakat terhadap BBM bersubsidi dan mendorong peralihan konsumsi ke BBM nonsubsidi. "Hal ini dapat menambah biaya transportasi serta menekan daya beli, terutama kelompok masyarakat menengah bawah," tegasnya.

Kinerja Bursa Global dan Regional

Bursa Wall Street AS kompak menguat pada Rabu (19/08), dengan indeks S&P 500 naik 0,20 persen ke 7.710,70, Nasdaq Composite menguat 0,20 persen ke 26.331,09, dan Dow Jones Industrial Average naik 0,20 persen ke 53.463,11. Sementara itu, bursa Eropa bergerak variatif, dengan FTSE 100 Inggris menguat 0,14 persen, sedangkan Euro Stoxx 50, DAX Jerman, dan CAC 40 Prancis melemah tipis.

Di kawasan Asia, penguatan terjadi hampir merata. Indeks Nikkei naik 0,95 persen ke 65.950,00, Shanghai menguat 0,54 persen ke 3.915,4, dan Kospi melonjak 6,18 persen ke 6.870,41. Hang Seng dan Kuala Lumpur masing-masing menguat 0,77 persen dan 0,14 persen.

Follow kabarambon.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ambon.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks