BANDA BESAR — Nelayan di Kepulauan Banda kini tak hanya mengandalkan naluri dan pengalaman saat melaut. Di tengah meningkatnya cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim, mereka mulai memanfaatkan teknologi untuk menentukan kapan waktu aman berlayar dan di mana titik daerah penangkapan ikan.
Lewat Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) Plus, para nelayan diajak memahami data prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Ambon. Dalam sesi pelatihan, staf BMKG, Suaif, menunjukkan cara membaca peta kecepatan angin dan gelombang melalui gawai.
"Kalau warna biru menunjukkan laut dalam kondisi tenang, hijau rendah, dan kuning sedang. Kemudian warna oranye menandakan gelombang tinggi serta merah menerangkan gelombang sangat tinggi," ujar Suaif di hadapan para nelayan.
Membaca Peta untuk Menemukan Ikan
Para peserta tak hanya diajarkan membaca gradasi warna gelombang. Mereka juga diperkenalkan pada produk informasi cuaca maritim lainnya, seperti prediksi peringatan gelombang satu hingga tiga hari, prakiraan cuaca wilayah Maluku, hingga cuaca pelabuhan.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Hasan, menjelaskan cara memperkirakan kecepatan angin berdasarkan efek visual di darat maupun permukaan air. "Di laut, ditandai dengan tinggi gelombang dan banyak buih," jelasnya.
Para nelayan juga dilatih mengakses kanal Indonesian Weather Information for Shipping (INAWIS). Kanal ini terintegrasi dengan situs cuaca dan iklim BMKG untuk membantu nelayan menemukan daerah penangkapan ikan potensial.
"Fitur ini membantu nelayan menemukan lokasi keberadaan ikan secara spesifik dan jenisnya," papar Hasan.
Cuaca Ekstrem Menggeser Pola Melaut
Persoalan cuaca bukan hal sepele bagi nelayan Banda. Musliadi, salah satu peserta, mengaku telah menggunakan GPS untuk merekam titik fishing ground ikan tuna di Laut Banda. Namun, ia mengeluhkan dampak perubahan iklim yang menggeser pergantian monsun dan meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem.
Keluhan itu sejalan dengan kajian Ahli Klimatologi BRIN, Erma Yulihastin (2024), yang menyebut Laut Banda sebagai salah satu wilayah penting pembentukan hujan dan siklon tropis. Interaksi antara atmosfer dan laut di wilayah tersebut dapat memperkuat pembentukan cuaca ekstrem, meningkatkan risiko keselamatan nelayan saat angin kencang dan gelombang tinggi melanda.
Meski begitu, Musliadi menilai hadirnya SLCN Plus memudahkan nelayan mengakses prediksi cuaca maritim secara real-time. "Situs BMKG mudah diakses dan sangat membantu sekali mengetahui kondisi cuaca terkini," ujarnya.
Destana Kepulauan untuk Maluku
Kegiatan ini merupakan bagian dari program desa tangguh bencana (Destana) yang dijalankan Yayasan SAHARI di Maluku. Direktur Program Yayasan SAHARI, Noni Tuharea, mengatakan konsep Destana harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah Maluku yang terdiri dari pulau-pulau kecil.
"Karena itu, konsep Destana juga harus menjadi konsep membangun pulau kecil tangguh bencana. Yayasan SAHARI sebut sebagai Destana Kepulauan," jelasnya.
Program Destana Kepulauan dijalankan di sejumlah desa, antara lain Desa Soleh dan Tonu Jaya di Pulau Kelang, Seram Bagian Barat; Desa Liang, Waai, dan Tial di Pulau Ambon; serta Desa Pulau Ay, Lautang, dan Selamon di Kepulauan Banda. Di desa-desa tersebut, masyarakat terlebih dahulu memetakan risiko dan ancaman bencana dengan pendampingan staf Yayasan SAHARI. Hasil kajian mengungkap Kepulauan Banda terdampak ancaman bencana pali—istilah lokal untuk gelombang pasang.