AMBON — Kepastian itu disampaikan langsung oleh utusan Yeni Rosbayani Asri kepada keluarga Nadia sehari setelah festival tingkat kabupaten usai. Dahlan Patty, orangtua Nadia, mengaku didatangi orang dekat Ketua Lasqi SBB di kediamannya di Negeri Latu, Kecamatan Amlatu, yang menyampaikan bahwa putrinya tak bisa mewakili daerah ke ajang tingkat provinsi.
"Dia bilang begitu bahwa anak saya tak bisa ikut di tingkat provinsi karena namanya sudah diganti. Saat saya cek ternyata nama Sarina juga diganti," ujar Dahlan, Rabu (2/9/2026).
Kronologi Pencoretan Dua Juara Lasqi SBB
Dahlan menuturkan, awalnya nama Nadia dan Sarina telah dipastikan lolos mewakili SBB setelah keluar sebagai juara pertama dalam festival yang digelar di tingkat kabupaten tersebut. Namun, kepastian itu berubah sehari setelah kompetisi resmi ditutup.
Kedatangan utusan Yeni Rosbayani Asri ke rumahnya menjadi awal mula terungkapnya pergantian tersebut. Dahlan menyebut, sang utusan menyampaikan permintaan agar Nadia mengundurkan diri karena posisinya telah digantikan oleh orang lain.
"Saya sangat kecewa karena dua orang yang menggantikan putrinya dan Sarina adalah keluarga dari Yeni Rosbayani Asri," sebutnya dengan nada kesal.
Pengganti Diduga Kerabat Dekat Istri Bupati
Dahlan mengungkapkan, salah satu pengganti yang kerap terlihat tinggal di pendopo bupati, sementara yang lainnya berasal dari salah satu dusun di Kecamatan Huamual. Yang lebih memprihatinkan, satu di antara pengganti tersebut disebut tidak pernah mengikuti seleksi maupun bertanding sebagai peserta di tingkat kabupaten.
"Ini kan nepotisme namanya. Untuk apa lagi ada seleksi kalau yang juara dieliminasi dan digantikan dengan keluarga sendiri," kecam Dahlan.
Ia pun mempertanyakan independensi para juri dan panitia penyelenggara yang disebutnya gagal menjaga proses regenerasi kontingen secara adil. Menurut Dahlan, keputusan tersebut tidak mencerminkan hasil kompetisi yang telah berlangsung dan merugikan peserta yang telah berjuang meraih juara.
Proses Penetapan Kontingen SBB Dipertanyakan
Persoalan ini memunculkan pertanyaan besar mengenai mekanisme seleksi kontingen SBB, yang dinilai tidak transparan dan mengabaikan hasil kompetisi resmi. Keluarga peserta menganggap keputusan sepihak tersebut sebagai bentuk pembiaran terhadap praktik intervensi kekuasaan dalam tubuh organisasi kesenian.
"Ini sangat miris sekali dan ini mencerminkan mental mereka yang sangat bobrok," tandas Dahlan.
Sementara itu, belum ada tanggapan resmi dari Ketua Lasqi SBB, Yeni Rosbayani Asri, maupun pihak panitia penyelenggara festival tingkat kabupaten soal tuduhan pencoretan dan penggantian kontingen tersebut.